Etika Dalam Pendidikan Islam

By: Naufal El Fany | 16 November 2022 | 105
Ilustrasi by @elfanynaufal
Ilustrasi by @elfanynaufal

Etika secara bahasa adalah ilmu yang berkenaan tentang yang buruk dan tentang hak serta kewajiban moral. Etika juga bermakna nilai mengenai benar dan salah yang dianut seseorang. Etika artinya tata susila atau tata cara pergaulan. Makna dasar dari etika adalah ethos (Yunani). Etika merupakan bagian dari ilmu filsafat. Etika sering disamakan dengan akhlaq, namun banyak juga para ahli yang membedakan keduanya.

Secara etimologis, menurut Endang Syaifuddin Anshari, etika berarti perbuatan, dan ada sangkut pautnya dengan kata-kata Khuliq (pencipta) dan Makhluq (yang diciptakan). Akan tetapi, ditemukan juga pengertian etika berasal dari kata jamak dalam bahasa Arab “Akhlaq”. Kata mufradnya adalah khulqu, yang berarti : sajiyyah: perangai, mur’iiah : budi, thab’in : tabiat, dan adab: adab (kesopanan). Etika pada umumnya diidentikkan dengan moral (moralitas). Meskipun sama terkait dengan baik-buruk tindakan manusia, etika dan moral memiliki perbedaan pengertian. perbuatan baik dan buruk (ethics atau ilm al-akhlaq) dan moral (akhlaq) adalah praktiknya. Sering pula yang dimaksud dengan etika adalah semua perbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik maupun buruk. Etika adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang tingkah laku manusia, perkataan etika berasal dari bahasa Yunani yaitu Ethos yang berarti adat kebiasaan. Etika adalah sebuah pranata perilaku eseorang atau kelompok orang yang tersusun dari suatu sistem nilai atau norma yang diambil dari gejala-gejala alamiyah sekelompok masyarakat tersebut.

Istilah etika diartikan sebagai suatu perbuatan standar (standard of conduct) yang memimpin individu, etika adalah suatu studi mengenai perbuatan yang sah dan benar dan moral yang lakukan seseorang. Aristoteles mendefinisikan etika sebagai suatu kumpulan aturan yang harus dipatuhi oleh manusia. Etika juga memiliki stresing terhadap kajian sistem nilai-nilai yang ada. Oleh karena itu apabila kita kaitkan etika dengan perdagangan dalam Islam, maka akan melahirkan suatu kesimpulan bahwa perdagangan harus mengacu nilai-nilai keislaman yang telah baku dari sumber aslinya yaitu al-Quran dan al- Sunnah.

Terkait dengan etika Joseph Fletcher berpendapat tentang etika yang berhubungan dengan situasi dan peraturan. Secara singkat etika situasi mengatakan bahwa apa yang wajib dilakukan oleh seseorang dalam situasi konkret, tidak dapat disimpulkan dari suatu hukum moral umum melainkan harus diputuskan oleh orang bersangkutan. Etika situasi menjungjung tinggi otonomi moral individu dan menolak ketaatan begitu saja terhadap suatu hukum moral sebagai heteronomi. Tidak ada perbuatan yang pada dirinya baik atau jahat, semua tergantung dari situasi.

Etika Peraturan bukan salah satu teori etika tersidiri, melainkan istilah bagi suatu pola penghayatan moral yang ditemukan dalam banyak lingkungan budaya, tradisi, dan agama. Dalam pola ini moralitas pada hakikatnya dianggap suatu sistem peritah dan larangan yang tinggal ditaati.

Jika etika diartikan sebagai kumpulan peraturan sebagaimana yang diungkapkan oleh Aristoteles, maka etika perdagangan dalam Islam dapat diartikan sebagai suatu perdagangan yang harus mematuhi kumpulan aturanaturan yang ada dalam islam.Pemakaian istilah etika disamakan dengan akhlak, adapun persamaannya terletak pada objeknya, yaitu keduanya sama-sama membahas baik buruknya tingkah laku manusia. Segi perbedaannya etika menentukan baik buruknya manusia dengan tolak ukur akal pikiran. Sedangkan akhlak dengan menetukannya dengan tolak ukur ajaran agama (alQuran dan al-Sunnah).

Etika merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti: adat istiadat. Sebagai cabang dari filsafat, maka etika berangkat dari kesimpulan logis dan rasio guna untuk menetapkan ukuran yang sama dan disepakati mengenai sesuatu perbuatan, apakah perbuatan itu baik atau buruk, benar atau salah dan pantas atau tidak pantas untuk dikerjakan. Di dalam New Masters Pictorial encyclopedia dikatakan: ethichs is science of moral philosophy concerned not with fact, but with values; not with caracter of, but the ideal of human conduct. (Etika adalah ilmu tentang filsafat moral, tidak mengenai fakta, tetapi tentang nilai-nilai, tidak mengenai sifat tindakan manusia, tetapi tentang idenya).

Sebagian orang berpendapat bahwa etika sama dengan akhlaq. Persamaan itu memang ada, karena keduanya membahas masalah baik buruknya tingkah laku manusia. Tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama bagi seluruh manusia di setiap waktu dan tempat dengan ukuran tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal fikiran. Akan tetapi dalam usaha mencapai tujuan itu, etika mengalami kesulitan, karena pandangan masing-masing golongan di dunia ini tentang baik dan buruk mempunyai ukuran atau kriteria yang berlainan.

Kalau kita sepakati bahwa etika ialah suatu kajian kritis rasional mengenai yang baik dan yang buruk, bagaimana halnya dengan teori etika dalam Islam. Sedangkan telah disebutkan di muka, kita menemukan dua faham, yaitu faham rasionalisme yang diwakili oleh Mu’tazilah dan faham tradisionalisme yang diwakili oleh Asy’ariyah. Munculnya perbedaan itu memang sulit diingkari baik karena pengaruh filsafat Yunani ke dalam dunia Islam maupun karena narasi ayat-ayat Alquran sendiri yang mendorong lahirnya perbedaan penafsiran. Di dalam Alquran pesan etis selalu saja terselubungi oleh isyarat-isyarat yang menuntut penafsiran dan perenungan oleh manusia. Etika Islam memiliki antisipasi jauh ke depan dengan dua ciri utama. Pertama, etika Islam tidak menentang fitrah manusia. Kedua, etika Islam amat rasionalistik.

 

Kibtiyah (Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuanyar, Program Menejemen Pendidikan Islam)