Dari Keluarga Untuk Peradaban Manusia

By: Mukmin Faishal | 01 April 2020 | 449
Artikel oleh Abdullah Tamami
Artikel oleh Abdullah Tamami

Perempuan, baik posisinya sebagai seorang istri atau seorang perempuan terdidik, ia adalah madrasah yang mencetak manusia-manusia hebat. Sedangkan keluarga merupakan pondasi dalam membangun masyarakat, jika pondasi itu baik, maka baik pula bangunanya, jika keluarga baik, maka baik juga masyarakatnya.” Penyataan Dr. Quraisy shihab ini yang akan penulis jadikan syarah sebagai bagian dari bahan topik menarik dalam membahas tema keluarga dari sisi terpentingnya yaitu lahirnya nasl atau generasi muttaqin.

Sebab harus disadari bahwa salah satu tujuan utama dari pernikahan ialah untuk keberlangsungan anak keturunan manusia, mereka bukan hanya berfungsi untuk estafet nasab tetap berlanjut, di sisi lain mereka merupakan tempat menyalurkan ide dan cita-cita yang kelak diharapkan diwujudkan ketika orangtua telah tiada.

Ia juga merupakan aset terbesar dengan berlipat-lipat perbendaharaan yang menggiurkan, ia merupakan kucuran pahala deras mengalir ketika kita telah tiada. Potensi ini yang juga diharapkan kelak menjadi continuity desaign dari dakwah Sang Baginda Nabi. Begitu kira-kira impian dan cita-cita beliau.

Timbulah bahasan di kalangan pakar, sejak kapan seharusnya memulai pendidikan bagi keluarga khusunya anak? Nah, inilah salah satu bentuk kepedulian besar agama islam, bahwa jauh sebelum mempersiapkan dan meletakan batu pertama tarbiyah ternyata agama memberikan pedoman bagi para calon orangtua.

Ada seorang berkisah, suatu hari seorang ayah berkata kepada anaknya, “wahai anakku, aku mendidikmu sebelum engkau lahir.” Sang anak terheran-heran seraya bertanya “bagaimana bisa ayah?” ayahnya menjawab “ku pilihkan untukmu ibu yang paling baik sehingga kau terdidik olehnya. Sebaliknya, jika aku pilihkan ibu yang tidak baik, kau tak akan seperti saat ini.”

Dan pada akhirnya barangkali tema selektif memilih pasangan ini sepatutnya memiliki korelasi kuat akan kelanjutan pendidikan yang menjadi mata rantai tak terputus tema ini.

Bahkan dimulai menjelang kelahiran pun sang buah hati diperdengarkan adzan oleh ayahnya yang menurut sebagian orang hal itu tidak berdampak apa-apa sebab tidak mungkin terdengar, namun minimalnya hal ini menjadi isyarat kesiapan orang tua untuk mendidik dan menanamkan dalam jiwa anak untuk senantiasa mendirikan sholat dan dekat kepadaNya.

Tentu jauh sebelum itu terdapat proses panjang yang melatari, bahkan yang kerap masih menjadi topik menarik yakni tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. Rendahnya tingkat kesadaran akan pentingnya pendidikan yang tinggi bagi perempuan, tentu menjadi sebuah hal yang patut disayangkan. Merasa tidak perlu, tidak berkewajiban, atau bahkan tidak begitu menginginkan adalah sejumlah alasan yang kerap dilontarkan sehingga perempuan kerap mengesampingkan pendidikan. Mau tidak mau ini merupakan masalah besar.

Anak keturunan adalah anugerah terbesar bagi kedua orang tua sekaligus amanah Tuhan yang dibebankan di pundak mereka. Istilah buah hati bagi mereka merupakan satu ekspresi bahagia, ia adalah satu rangkai dari qurrata a’yun atau penyejuk mata dan hiasan kehidupan atau bahkan menjadi fitnah terbesar sebagaimana Al-quran kerap menyebutnya. Sebagai sebuah aset, maka tentunya menjadi sebuah keharusan bagi orangtua untuk menggalang sematang-matangnya persiapan terbaik bagi mereka serta menyuguhkan sebaik-baik pendidikan.

            Tema mendasar parenting dalam Al-quran bisa kita pelajari dalam Attahrim ayat 6:"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”. Dalam ayat ini sangat jelas bahwa yang perlu medapat perhatian terlebih dahulu yaitu diri sendiri terutama dalam peningkatan kualitas iman dan ibadah. Setelah itu, pendidikan orangtua kepada keluarganya yang sekaligus menjadi poros utama dalam menentukan perkembangan anak, baik fisik maupun psikologinya.

            Sebutlah salah satu hadits, Rasulullah bersabda “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka hanya kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya seorang yahudi atau seorang nasrani atau seorang majusi”. Ada sebuah indikasi kuat di hadits ini bahwa orangtua juga dituntut proaktif dalam pertumbuhan si kecil, baik emosional maupun kepribadian serta segala hal yang berkenaan dengan sang buah hati. Dari ayat ini juga mendorong antara suami dan istri untuk saling bahu-membahu menyiapkan dan membangun pendidikan anak.

Sebab, dari sinilah pembentukan kepribadian serta beragam kompleks kejiwaan mulai terbangun, dimana seorang anak dengan kepekaan tinggi mampu menyerap segala hal yang ada di sampingnya.

            Salah satu komunikasi juga pernah direkam Al-quran dalam surah Luqman yang menurut para Ulama’ pemberian nama surah dengan nama ini bukan tanpa tujuan, namun sebagai sebuah tamsil dan gambaran dari keluarga yang dinobatkan baik oleh Al-quran.

            Dalam kisah itu terjadi sebuah pendekatan lewat pesan-pesan baik kepada anaknya dan meletakan pengetahuan tentang Tuhanya sebagai pengajaran awal.

            Hal ini juga menuntut adanya keteladanan yang tercermin dari orangtua, di sisi lain banyak terjadi istilah “salah asuh” yang alih-alih menghambat terlaksananya tujuan utama pendidikan. Bahkan dengan dalih cinta pada anak pun harus mempertimbangkan dengan bijak, sedangkan kita juga khawatir dan tidak ingin menyodorkan pisau bermata dua kepada mereka.

            Penulis akan mengakhiri dengan kisah Yusuf. Di sana diceritakan bahwa ketika saudar-saudara Yusuf hendak membawa Yusuf bermain yang ternyata hanya sebagai modus belaka, Ya’qub melarang hingga saking cintanya pada Yusuf secara tidak sadar ia mengajarkan berbohong kepada mereka dengan alasan tidak masuk akal, hanya karena takut dimakan serigala. Dan akhirnya hal itu yang mempengaruhi isi otak mereka, mereka pun pulang dengan mempraktekan hal yang diajarkan oleh Sang ayah.

            Hal ini yang juga disebut dengan kurikulum terselubung yang tanpa sadar kerap menjadi kesalahan bagi orang tua dalam memaknai pendidikan.