Cinta Tuhan di Dugda Jharkhand

By: Abdul Aziz Wisol | 17 Oktober 2018 | 155
Oldig by Aziz Wisol
Oldig by Aziz Wisol

 

“Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka (Q.s. Yaasin:75 )”

*****

Lalmohan pun berhenti disaat mendengar sebuah syair menurutnya yang terdengar dari rumah itu. Sungguh, begitu merdu sekali suaranya, kata-katanya pun begitu halus. Seakan-akan, membuat hatinya terluluhkan. Namun, dia begitu tidak paham. Mengapa dia mendengar ada kata ‘berhala tiada dapat menolong?’ di sela-sela syair itu. Sungguh, hatinya berkecamuk akan syair yang menyinggung patung Dewa. Ya, dia ingin sekali bertemu dengan seorang penyair itu. Tentang syair yang menyinggung patung Dewa. Tapi, dia masih mengamati syair itu.

Akhirnya, Lalmohan mendengar lagi. Tapi, berbeda dengan apa yang dia dengar dari sebelumnya. Sekarang dia mendengar ‘apakah kamu tidak memikirkan?’ mendengar kata yang timbul dari syair itu. Dia, Semakin meragukan patung Dewa-dewa-Nya. Lalmohan pun berfikir sejernih mungkin.’Benarkah patung Dewa yang selama ini aku sembah tidak dapat menolongku?’ ‘Apakah ia tidak dapat melindungiku?’ ‘Lantas, siapa yang pantas aku sembah?’ ‘dan siapa yang menolongku?’’jikalau, bukan patung dewa’’ batinnya.

Lalmohan pun menjadi meragukan patung Dewa yang selama ini. Dia percayai sebagai tuhannya, yang akan menjadi pelindungnya samapai akhir hayatnya. Namun, semua itu memudar disaat mendengar akan syair itu. Dia pun tidak mau berhenti untuk terus berfikir sedalam mungkin. Sehingga, dia tenggelam dalam fikirannya yang membawa pada sebulan yang lalu.

Derasnya hujan, mengguyur kegelapan malam di kota Dugda Jharkhand diiringi petir terus menggelegar dan disertai angin besar menyapa pepohonan yang terombang-ambing nyaris roboh. Namun, tidaklah sama sekali mengurangi kesemangatan Lalmohan untuk pelariannya yang secepat kilat itu. Dia tidak menghiraukan yang tengah dia alami. yaitu mulutnya tengah mengucurkan darah segar penuh kesakitan. apalagi menghiraukan apa-apa yang ada disekitarnya. Meskipun, begitu banyaknya bunyi burung hantu terdengar nyaring.

Lihatlah, ditangannya. Dia membawa asbak dan menuju Pura. Mungkin dia akan memberi sesuatu pada dewa siwa yang teramat sangat dia cintai. Ya, mungkinkah itu adalah sebuah hadiah untuknya?. Entahlah.

Tengah perjalanan, dia jatuh terjerembab. Tersebab ada ranting yang tidak terlihat  olehnya. Karena, tidak ada secercah cahaya pun yang menerangi perjalanannya di hutan itu. Namun, meskipun dia jatuh dan berucuran darah segar dilututnya. Tidak mengurangi kesemangatannya. Dia tetap bangkit kembali. Lalu, berlari meskipun kakinya sedikit pincang dan air hujan terus mengiringinya. Sedangkan, perjalan yang di tempuhnya masih sangat jauh sekali untuk sampai kesana.

Setengah jam kemudian, Lalmohan pun sampai di Pura. Dia pun membuka pintu masuk. Ya, sepi, hanya ada beberapa patung Dewa di sana. Dia tersenyum disaat, melihat patung Dewa  Siwa sudah tampak di depan mata. Dia kembali melangkah Beberapa langkah mendekatkan diri pada patung Dewa itu. Tepat di depan patung Dewa Siwa yang tergambar menebarkan senyum yang tetap. Dia pun berlutut. Lalu, menjunjungkan asbaknya. Dia biarkan terbuka yang di dalamnya terdapat potongan lidahnya yang masih dilapisi darah segar. Ya, lidah yang berada dalam asbak itu adalah lidahnya sendiri. Dia melakukan semua itu karena, dia sudah mempercayai akan perkataan kaumnya yang tidak lain lagi adalah kaum suku Santhal. Jadi wajar saja di rela memotong lidahnya yang ingin di buat  hadiah untuk dewa Siwa. Karena, suku itu sangatlah percaya akan ritual seperti itu yang akan mendapatkan keberkahan hidupnya.

Tum bhi mujhse pyarkarta hoon[1],Dewa Siwa. Dengan  sepotong lidah hamba-Mu ini persembahkan. Terimalah, hadiah hamba-Mu ini. Namun, Dewa izinkanlah hamba untuk meminta sesuatu pada-Mu” ucapnya memohon dengan suara tidak terlalu jelas. Tersebab separuh lidahnya terpotong.

Patung itu tidak ada gerakan sama sekali. Walau, sedikit pun, dan tidak ada anggukan kepalanya. Apalagi merespon akan perkataan Lalmohan. Ya, Hanya saja senyum yang tetap

“Berilah hamba-Mu ini keberkahan hidup dan lindungilah dari mara bahaya. Hingga, akhir hayat. Serta masukilah hamba yang teramat sangat mencintaimnu pada swaarg[2]-Mu, dewa” lanjutnya dengan diri air mata, memohon.

*****

Lalmohan pun  melangkahkan kakinya menuju rumah yang tidak lain adalah sumber  terdengarnya syair itu. Tanpa, tiada keraguan sesdikit pun untuk melangkah. Ya, karena dia menuruti akan kata hatinya yang selalu menghantui benaknya.

“Tok…! Tok…!”

Lalmohan mengetok pintu rumah itu. Namun, tiada seorang pun yang membukanya. Tiada  seorang pun yang menghampirinya. Hanya saja, syair itu terus diantunkan. Kadang kala   dia mendengar syair yang menggunakan bahasa asing yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Sehingga, dia harus berdiri agak lama. Di serami rumah. Ya,  sempat pula dia untuk mengurung niatnya.  Sebab dia menunggu  sudah cukup lama.

Namun, akhirnya Lalmohan kembali mengetok pintu dan ketokan kesekian kalinya ada yang membuka pintu rumah itu. Lalmohan menjadi kaget ketika, melihat seorang setengah baya berpakaian jubah putih dan menggunakan peci putih serta tengah menghitung biji demi biji tasbih yang tengah melingkar di tangannya. Ya, dia adalah Syaikh Maliki. Yang asli orang Palestina. Namun, dia tinggal di India untuk mengajari orang muslim yang ada di Dugha Jharkhand.

Kya hua[3] anak muda? Malam-malam kesini?” tanya Syaikh Maliki pada tamunya itu.

“Maaf, aku telah mengganggumu”

Respon Lalmohan dengan suara yang tidak begitu jelas kedengarannya pada Syaikh Maliki. Namun, beliau sedikit bisa menangkap katanya bisa dipahami. Walaupun, suaranya sedikit pedal.

“Oh... tidak kok, anak muda” jawabnya   sembari menebarkan senyum

“Begini, aku datang kesini...” ucapan lalmohan terputus

“Oh,ya, silahkan duduk dulu” pinta Syaikh Maliki pada tamunya dengan ramah mempersilahkan.

Mereka pun duduk di kursi kayu di teras rumahnya dengan berhadap-hadapan.

“Silahkan lanjutkan pembicaraannya ”

“Aku kesini karena, tadi aku mendengar syair yang teramat merdu nan lembut itu. Sehingga, hatiku menjadi tentram dan tenang mendengarnya. Namun, disela-sela syairmu itu aku sempat mendengar ‘berhala tiada dapat menolong-Mu’ dan juga mendengar ‘Apakah tidak memikirkan?’ semua itulah aku menjadi tidak mengarti padahal selama ini. Aku merasa dilindungi oleh Dewa yang terbuat dari patung itu. Lagian. Apa yang harus aku pikirkan?” ujar Lalmohan panjang lebar pada Syaikh Maliki.

Syaikh Maliki tidak langsung menanggapi ucapan Lalmohan. Dia memilih menarik nafas panjang terlebih dahulu dan melemparkan senyum padanya. Lalu, dia berkata: “Apa yang kau dengar itu bukanlah syair, anak muda. Akan tetapi, itu adalah makna dari ayat Al-Qur’an yang saya terjemah kedalam bahasa India. ”

“Apa ayat Al-Qur’an itu?” tanya Lalmohan penasaran. Ya, dia baru sekarang mendengar kata-kata itu.

“Al-Qur ‘an adalah sebuah kitab suci kepercayaan agamaku. Yaitu, agama islam yang di dalamnya berisi perkataan atau firman dari Tuhanku, Allah SWT...” Syaikh Maliki terus menjelaskan panjang lebar tentang Al-Qur’an, ketauhed-tan hingga, sampai pada keutamaanya, pada tamunya itu.

Sehingga, pada akhirnya, Lalmmohan itu pun tertarik akan cerita Syaikh Maliki dan dia pun berkenginan untuk mempelajari kitab itu tanpa ada keraguan apapun, ya, murni dia berangkat dari hatinya yang paling dalam. Karena, dia sudah yakin pada kitab itu. Kalau, itulah satu-satunya kitab yang benar dan itulah petujuk yang benar. Sedangkan dalam weda[4] yang selam ini dia percayai.

“Tapi, ada syaratnya, anak muda” ujar Syaikh Maliki setelah mendengar ucapan Lalmohan yang telah benar-benar terbuka pintu hatinya yang tadi dia utarakan padanya, tanpa ada keraguan sama sekali.

“Apa itu?” tanya penasaran

“Kalau, anda benar-benar ingin mempelajarinya. Anda harus masuk Islam terlebih dahulu, anak muda. Dan ingatlah, didalam Agama Islam tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Dan Al-Qur’an tidak lah mempelajari syair, begitu juga Agama Islam. Akan tetapi, Al-Qur’an mengajarkan pembelajaran pada jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: ”Kami tidak mengajarkan syair padanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab peneran[5]” jelas Syaikh Maliki pada Lalmohan.

“Aku bersedia dengan persyaratannya. Karena, aku yakin agamamu adalah agama yang lurus”

“Baiklah, anak muda. Ikutilah perkatanku” pinta Syaikh Maliki.

   Lalmohan pun menganggukan kepala pelan dan mengikuti setiap ucapan Syaikh Maliki. Yaitu, dua kalimat syahadat. Disaat, membaca kalimat itu Syaikh Maliki meneteskan air mata. Tapi, bukalah bentuk sebuah penyesalan karena, meng-islamkan hamba Allah yang awam itu. Akan tetapi, dia terharu. Begitu pula Lalmohan.

   “Alhamdulillah, anda sudah sah menjadi seorang mualaf atau anda sudah di akui mejadi umat Islam. Oh, ya, siapa nama anda, anak muda? ” tanyanya sembari melempar senyum.

   “Maaf, Apakah tuhan menerimaku untuk masuk dalam agama-Nya?”

   Syaikh Maliki tidaklah langsung menjawabnya. Dia masih memilih menghiasi wajah dengan senyumnya. Disaat, mendengar ucapan Lalmohan. Seakan-akan, dia ingin tertawa dengan ucapannya yang terlalu childis. Tapi, dia memaklumkan saja karena, dia baru saja masuk pada agama Allah.

   “Anak muda, Allah selalu mengampuni dan menerima hamba-Nya yang mau masuk pada agama-Nya atau yang ingin bertobat. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an  surah Al-baqarah ayat 222:”إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين” yang artinya: ‘Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri’. Maka, anda jangan ragu. Karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dan Allah selalu menerima hamba-Nya yang bertobat dan masuk pada agama-Nya.”

   Lalmohan pun menganggukan kepala pelan “oh, ya, siapa nama anda, anak muda?” tanya Syaikh Maliki lagi. Karena, raut wajah Lalmohan begitu paham akan kata-katanya. Jadi, dia tidaklah meragukan lagi dan begitu pula Lalmohan.

   “Ji, mere nam, Lalmohan[6]” 

   “Lalmohan. Karena anda sudah menjadi seorang mualaf. Maka, bolehkah saya merubah nama anda menjadi Abdurahman. Apakah anda mau menerimanya?” tanya Syaikh Maliki meyakinkan.

   “Iya, aku menerimanya dengan lapang dada” jawab Lalmohan bersemangat tanpa, ada keraguan sedikit pun.

   “Rab, mere syukrya[7] maha besar engkau penguasa seluruh alam, telah mempertemukan dengan hamba-Mu ini, dengan orang yang benar-benar menyukai akan agama-Mu”  ucap Syaikh Maliki membatin

   Tak terasa air mata Syaikh Maliki kembali, tumpah dari kelopak matanya karena, haru. Dia pun cepat-cepat memeluk Lalmohan yang sekarang dia namanya dirubah menjadi Abdurahman. Dia pun membalasnya.

*****

   Hari demi hari yang tidak kenal  lelah, tidak kenal waktu, Lalmohan untuk memperdalam agama barunya itu pada Syaikh Maliki. Dia benar-benar bersungguh-sungguh untuk mempelajari agama Islam dan dia pun sekarang sedikkit banyak mengetahui tentang akan peraturan- peeraturan yang dilarang oleh Allah swt. Dia juga mempelajari kitab suci Al-Qur’an. Ya, dia benar-benar  menghayati  setiap bacaannnya dengan hati tentram dan damai. Setiap kali dia membaca ayat Al-Qur’an dia sering kali meneteskan air matanya. Meskipun dia tidak terlalu banyak mengetahui akan maknanya. Begitu pula di saat dia membaca surah Yaasiin yang dia istiqomah-kan setiap selesai sholat Maghrib. Entah,  kenapa hatinya selalu terluluhkan  dan merasa menyesal akan perbuatan page­­l­[8]-nya ketika, dia masih memeluk agama nenek moyangnya. Namun, disaat dia sampai ayat 65 dia selalu mengulangnya di iringi linangan air mata. “ اليوم نختم على افواههم وتكلمنا ايديهم وتشهد ارجلهم بما كانوا يكسبون ” setip  kali dia sampai pada ayat itu. Dia pun selalu teringat pada Syaikh Maliki yang sempat mengartikan  dan  menjelaskannya penuh luapan hati yang paling dalam sambil berkata: “Pada hari  ini kami menutup mulut mereka dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dulu mereka usahakan.” Maksud dari ayat itu pada hari kiamat Allah akan mengunci mulut kita. Tangan dan kaki kita. Karena semua itu akan menjadi saksi yang pernah kita perbuat saat kita masih hidup di dunia. Maka, tiada kata tidak jujur atau bohong di hari itu.

    “Ya, hari itulah merupakan hari dimana kita mendapat balasan dari Allah swt, yang baik maupun buruk  itu pun tergatung amal kita di dunia”

Lalmohan pun baru sadar. Setelah, diamembaca ayat Al-qur’an yang tengah dibacanya  berteteslah air matanya.  Dia pun meletakkan Al-Qur’an setelah sesainya mengaji. Tiba-tiba,  dia bersujud dengan cukup lama sembari diiringi air mata. Lalu, dia bangun dari  sujudnya dan berdo’a yang di iringi linangan air mata keluar dari sudut matanya. “Ya, allah. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ampunilah hamba-Mu yang banyak berbuat dosa pada-Mu. Ya, hanya kepada engkaulah hamba-Mu memohon ampunan dan hanya kepada engkaulah hamba-Mu ini mengadu. Serta berserah diri. Karena, hamba-Mu yang lemah. Ya, Allah...amiin ya, rabbal ‘alamin...”

Lalamohan tidak mengetahui jikalau, Syaikh Maliki tengah mengintipnya dari sela-sela pintu yang ter buka hanya 10 cm itu. Syaikh Maliki sudah  cukup lama dia berdiri dan menghayati akan kata-kata Lalmohan yang benar-benar merasuk lubuk hatinya.  Sehingga, air matanya memenuhi kedua pipinya.

Ya, tujuan utamanya bukanlah untuk mengintipi seorang mualaf itu akan  tetapi, dia bermaksud untuk mengajaknya makan bersama keluarga. Tersebab sudah  menunggu di ruang makan. Namun, karena  dia melihat Abdurrahman sedang mengaji dan memanjat Doa pada sang Khaliq. Sehingga,  di mengurungkan niatnya itu, supaya tidak mengganggunya.

“Sudah lamakah, Syaikh Maliki berdiri disitu?” tanya Abdurrahman mengengagetkan Syaikh Maliki yang tengah melamun. Setelah mengetahuinya.

Oh, na... nahin[9]” jawabnya tergagap-gagap. Ia pun tersipu mau pada Abdurrahman karna, telah mempergokinya. Sebab dia masuk tanpa ada ketokan pintu terlebih dahulu.

“Silahkan masuk, Syaikh...” ucap Abdurrahman Ta’dhim pada Syaikh Maliki yang sekarang ini sudah menjadi guru sekaligus tuan rumahnya.

Ya, dia tinggal rumah Syaikh Maliki sejak dia menjadi muallaf. Sebab ada tawaran sebelumnya. Sempat dia tidak mau menerima tawaran Syaikh Maliki awalnya. Namun, dia fikirkan kembali dan pertimbangkan kembali. Karena,  dia seorang anak   yang keturunan wasi[10] yang pastinya. Jikalau,  seleruh sanak  keluarganya mengetahui kalau, dia sudah tidak lagi memeluk agama nenek moyangnya. Akan menjadi bahaya yang teramat sangat besar  baginya. Dia akan dibakar hidup-hidup. Lebih-lebih, seluruh warga mengetahui. Betapa malunya ayahnya dan betapa kecewanya? Seorang wasi tidak bisa mendidik anak sendiri?

“Maaf sebeumnya, karena saya telah lancang sekali membuka pintu kamar tanpa seidzin anda. Sebab saya terpaksa tidak mengetok pintu terlebih dahulu. Karena, anda terganggu.”

“Sudahah, jangan pikirkan itu., Syaikh. Silahkan masuk. Mungkin ada   hal penting yang mau  diicarakan. Iya, kan?”

“Oh, tidak anak muda. Saya kesini hanya untuk mengajak anda makan malam bersama. Karena., sejak tadi kami menunggu diruang makan.”

“Iya, insyaallah.  Se bentar lagi, Syaikh”

“Kalau, begitu saya pamit dulu, Assalamu’alaikum...

Wa’alaikum Salam warah matuallahi wabarakatuh....

Syaikh Maliki pun larut dari pandangan Abdurrahman dan kembali menutup pintu kamarnya, seperti sediakala.

*****

Beberapa bulan kemudian...

 Sungguh, Abdurrahman memperdalam ilmu-ilmu agama penuh dengan kesemangatan,   dia tidak penarnah menghiraukan kapanpun dia belajar pada Syaikh Maliki. Dia belajar ilmu-ilmu agama dari rukun-rukunnya hingga, pada kaidah-kaidahnya. Namun, dia tidak hanya sekedar untuk mempeajarinya akan tetapi dia juga memperaktikkannya sendiri tanpa ada suruhan dari Syaikh Maliki. Akhirnya, kesemangatannya tidak sia-sia dan bahkan membuatnya semakin menjadi lebih alim. Dia sekarang tidak hanya melaksanakan shaat farduh saja akan tetapi, juga dia melaksakan yang sunnah pula. Dia sering shalat tahajjud, dhuha dan  shalat sunnah lainnya.

Syaikh Maliki tidak lagi meragukan akan pengetahuan Abdurrahman akan ilmu-ilmu agama. Ya, sempat beberapa satu bulan yang lalu, dia minta idzin padanya untuk berdakwa pada  warga-warga disini dengan secara bersembunyi-sembunyi. Namun, beliau tidak mengizinkannya. Karena, pengetahuan tetang ilmu-ilmu agama masih belum menguasi betul. Namun, sekarang tidak lagi meragukan akan hal itu lagi.

Beberapa hari kemudian Abdurahman bertekad untuk menyebar luaskan agama islam di Dugh jharkhand. Dia pun tiada keraguan dan tiada rasa takut. Walaupun, nyawanyalah yang akan menjadi taruhannya. Namun, apalah gunanya sebuah nyawa kalau tidak di gunakan bukan untuk jalan Allah berada di dalam dirinya. Kata-kata ,itu, yang sempat ia  utarakan pada dirinya sendiri. Dia tak pernah takut untuk berjuang dijalan yang benar, dan tidak akan pernah mundur untuk apa-apa yang akn menjadi kendala dalam perjuangannya itu.

Usaha yang semangat untuk berjuang dan membela kebenaran, Akhir nya, tiada sia-sia dan tiada hal yang merugikan yang sejak awal perjuangannya yang benar-benar mengurai tenaganya. Namun, itu tidalah penting baginya. Bahkan, bukanlah hal yang melelahkan. Ya, sabar, tawadhu’, iktiyar, dan Doa  yang selalu dia lupakan setiap selesai shalat baik yang farduh maupun yang sunnah sekali pun.

Pengikutnya yang semakin banyak. Sehingga, masjid tua  itu nyaris terpenuhi. Sungguh, dia begitu bersyukur sekali kepada Allah SWT. Karena, kaum-kaumnya bisa di beri hidayah di buka pintu hatinya. Dia pun begitu semakin semangat untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama pada kaumnya.

*****

Semakin bertambah hari semakin bertambah pula, orang-orang yang mengikut pada nya. Sehingga masjid tua itu sudah tak terpenuhi. Namun, beberapa minggu dari situ. Orang-orang hindu datang berbondong-bondong dengan membawa  peralatan senjata tajam dan obor yang di junjung tinggi. Ya, Abdurrahman, Syaikh Maliki dan para pengikutnya masih melaksanakan shalat Ied.  Banyak sorakan dari orang-orang hindu kepadanya.

Akhirnya, beberapa menit kemudian, orang-orang Hindu itu membakar masjid yang banyak dari penghuninya itu, dengan ketidak berperi kemanusian. Api terus memangsa masjid tua itu dan beserta isinya. Gelak-tawa orang-orang hindu semakin memahana. Dan bensin semakin mereka  hemburkan. Sehingga, api itu mengulap semakin leluasa memangsanya. Hingga merata dengan tanah[11].

(Ahmad Hendra Purnomo)

 


[1] Aku mencintaimu

[2] Surga

[3] Ada apa

[4] Kita suci agama Hindu

[5] (Qs. Yaasiin)

[6] Ya, nama saya, Lalmohan.

[7] Terima kasih, Tuhan

[8] Gila

[9]  Oh, ti...tidak

[10] Pemuka agama

[11] Kisah ini merupakan, kisah nyata yang memang terjadi di Dugda Jharkhand. Namun, banyak yang saya fiksikan.