Catatan Ngaji Mantiq #5 : Tanaqudh atau kontradiksi

By: Hanif Muslim | 15 Februari 2021 | 798
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

Dalam mantiq, kontradiksi didefinisikan sebagai suatu pertentangan  antara dua proposisi (qadhiyyah) dalam hubungannya,  sehingga salah satu dari dua proposisi itu harus benar dan  selainnya salah alias tidak bisa benar semua atau  salah semua sekaligus,  dengan pengertian yang  lebih mudah  saling menegasikan satu sama lain.  biasanya mantiq menuturkan bahwa agar dua proposisi bisa kita nyatakan kontradiktif, syarat yang  harus terpenuhi ialah kedua proposisi memiliki kesamaan dalam delapan  aspek dan berbeda dalam dua aspek. Delapan aspek yang harus sama ialah:

• Subjek (maudhu’). Proposisi ‘manusia butuh  makan’ tidak bertentangan dengan ‘kuda butuh makan’.

• Predikat (mahmul). Proposisi ‘manusia butuh makan’ tidak bertentangan dengan ‘manusia bernapas’. (Catatan: ini tidak berarti ‘X salah’ dan ‘X benar’ bukan dua proposisi yang kontradiktif. Kata yang dipakai berbeda (‘salah’ dan ‘benar’), tetapi ‘salah’ adalah sama dengan ‘tidak benar’. Jadi, bisa dikatakan, yang bertentangan ialah ‘X benar’ dan ‘X tidak benar’. Predikatnya sama, yaitu ‘benar’. Perbedaan terletak pada afirmasi dan  negasi, yang  juga merupakan syarat dari kontradiksi—baca lanjut di bawah.)

• Waktu (zaman). Proposisi ‘Zaid  pintar dan bodoh’ tidak kontradiktif  jika kondisi pintar bagi Zaid mengacu pada usia dewasanya, sedang kondisi bodoh mengacu  pada saat ia masih kecil.

• Tempat (makan). Proposisi ‘teh itu dingin dan panas’ (merujuk ke ‘es teh  panas’) tidak kontradiktif jika yang dimaksud dingin adalah bagian atas, sedang yang panas adalah bagian bawah.

• Kondisi/anteseden (syarth/muqaddam). Proposisi ‘jika bersungguh-sungguh, Zaid akan sukses’ tidaklah bertentangan dengan ‘jika malas, Zaid akan gagal’.

• Relasi (idhafah). Proposisi ‘Hitler baik dan hitler jahat tidak lah kontradiktif jika yang dimaksud pada kata baik adalah untuk kelurganya dan kata ‘jahat’ pada rakyat jerman

• Seluruh-sebagiannya (kull/juz’). Proposisi ‘Zaid hitam tapi putih’ tidak kontradiktif jika ‘hitam’ mengacu pada keseluruhan warna kulit Zaid, sedangkan putih mengacu pada giginya.

• Potensi-aktualitasnya (al-quwwahwal-fi’l). Proposisi ‘beringin kecil tetapi besar’ tidak kontradiktif jika ‘kecil’ mengacu pada saat beringin masih berbentuk biji (yang berpotensi untuk tumbuh besar) dan ‘besar’ mengacu secara aktual pada saat ini ketika beringin sudah tumbuh besar.

Bila sudah sama dalam delapan aspek di atas, dua proposisi baru bisa dinyatakan bertentangan bila juga memenuhi syarat perbedaan dalam dua aspek, yakni kammiyyah (kuantitas; maksudnya dari segi universalitas/partikularitasnya) dan kaifiyyah (kualitas; maksudnya dari segi afirmasi/negasinya).

 

Dan perlu dibedakan antara ‘kontradiksi dengan ‘kontradistingsi’ kontradiksi berati proposisi yang bertentangan seperti “zaid adalah orang yang baik” dipertentangkan dengan “zaid adalah orang yang tidak baik” sedangkan kontradistingsi bermakna proposisi yang berbeda dan bukan bertentangan seperti contoh “zaid adalah orang yang baik” berbeda dengan “zaid adalah orang yang jujur” meski anatara “baik” dan “jujur” berbeda, tetapi tidak memiliki relasi oposisi (saling menegasikan) sehingga dengan demikian keduanya tidak disebut kontradiksi tetapi hanya sekedar kontradistingsi saja

Dan untuk membuat tanaqudh atau kontradiktif ada beberapa kaifiyah atau metode khusus pada setiap proposisi berikut pemaparannya:

Jika proposisinya individual (syakhsiyyah) dan general (muhmalah) maka metode pembatannya hanya merubah kualitasnya (kaifiyyah) contoh, proposisi individual “zaid seorang penulis” dibubah menjadi “zaid bukan seorang penulis” kemudian contoh yang general “manusia adalah hewan yang bisa tertawa” diubah menjadi “manusia adalah hewan yang tidak bisa tertawa” Jika proposisi dengan kuantitator (sur) maka, terdapat empat relasi antara proposisinya

a) Kontraris, yaitu pertentangan antara proposisi universal positif (U+) dengan universal negatif (U-) kedua proposisi ini tidak mungkin sama-sama benar tetapi memungkinkan keduanya sama-sama keliru sekaligus contoh, “semua filsuf menulis pemikirannya” (U+)  dengan “semua filsuf tidak  menulis pemikirannya” (U-)

b) Subkontraris, proposisi partikular positif (P+) dipertentangkan dengan proposisi partikular negatif (P-) aturan mainnya tidak mungkin kedua proposisi ini salah sekaligus tapi, memungkinkan keduanya sama-sama benar sekaligus contoh, “sebagian filsuf menulis pemikirannya” (P+) dengan “sebagian filsuf tidak menulis pemikirannya” (P-) 

c) Subalternatif, adalah hubungan antara universal positif (U+) dengan partikular positif (P+) atau universal negatif (U-) dengan partikular negatif (P-), maka hukumnya jika proposisi yang pertama (universal positif) benar maka secara otomatis proposisi kedua (partikular positif) juga benar tetapi hal ini tidak berlaku sebaliknya yaitu jika proposisi kedua benar belum tentu proposisi yang pertama benar. Contoh, “semua filsuf menulis pemikirannya” (U+) dengan “sebagian filsuf menulis pemikirannya” (P+) atau pun yang kedua “semua filsuf tidak menulis pemikirannya” (U-) dengan “sebagian filsuf tidak menulis pemikirannya” (P-)

d) Kontradiktoris, adalah kontradiksi yang terjadi antara proposisi universal positif (U+) dengan Partikular negatif (P-) atau Partikular Positif (P+) dengan universal negatif (U+) contoh, “semua filsuf menulis pemikirannya” (U+) dengan “sebagian filsuf tidak menulis pemikiran” (P-) atau pun sebaliknya “sebagian filsuf menulis pemikrannya” (P+) dipertentangkan dengan “semua filsuf tidak menulis pemikirannya” (U-) 

***

Semua hal ini akan berguna ketika kita menganalisis perselisihan pendapat. Sebelum masuk pada rincian argumen masing-masing, hal mendasar yang bisa kita tengarai dulu ialah apakah dua pandangan itu bertentangan (kontradiktif), berkebalikan (kontraris), atau berhubungan secara subkontraris. Jika masih mungkin kedua pandangan itu sama-sama benar, kita bisa mengatakan bahwa dua posisi itu bisa berdampingan (kompatibel) untuk dipegang bersamaan.

Mari ambil contoh perdebatan tentang agama dan sains. Sebagian orang menyebut di antara keduanya ada ‘konflik’ (dalam pengertian pertentangan atau kontradiksi). Seturut mantiq, hubungan yang bisa dinyatakan kontradiktif ialah hubungan antarproposisi. Pada tataran konsepsi (tashawwur), yang baru bisa kita nyatakan ialah apakah cakupan makna/petandanya beririsan atau tidak (baca indikator atau dilalah). Jadi, bila ditanya ‘bagaimana hubungan sains dan agama’, analisis pertama ialah apakah ada cakupan makna yang beririsan di antara keduanya.

Guna menjadi contoh dalam paparan ini, kita asumsikan saja kebenaran pandangan yang menyatakan bahwa antara agama dan sains beririsan (posisi non-independensi): masing-masing, entah sedikit atau banyak, mengajukan klaim tentang fenomena alam. Pada titik pertemuan klaim inilah, yakni ketika masing-masing mengajukan suatu proposisi, kita baru bisa menyatakan apakah ada kontradiksi di antara keduanya.

Ambil contoh dari apa yang oleh sebagian orang dianggap bukti pertentangan agama dan sains. Sains mengatakan ‘manusia berasal dari evolusi’ dan agama (kita ambil contoh dari Islam) mengatakan ‘manusia berasal dari turab’(sering diterjemahkan dengan debu atau tanah). Apakah keduanya kontradiktif? Pertama, kedua proposisi ini berbeda predikat (ingat syarat kedua dari kontradiksi) dan status dua predikat itu masih menyimpan kemungkinan untuk sama-sama benar.

Bisa saja skenarionya ialah manusia berasal dari evolusi, yang bila ditarik jauh ke belakang evolusi ini bermula dari organisme pertama yang sudah dapat disebut ‘hidup’, dan organisme pertama ini berasal dari turab. Dengan kalimat lain, bila saat berwujud turab ialah waktu A, lalu saat berwujud organisme pertama ialah waktu J, dan saat sudah jadi manusia ialah waktu Z, kita bisa menyatakan bahwa agama menarasikan bahwa penciptaan manusia di waktu Z berawal dari wujud pada waktu A, sementara sains bilang manusia di waktu Z berasal dari wujud pada waktu J. Kedua klaim ini tidak tidak menegasikan satu sama lain. Jadi, tidak kontradiktif. Akan lain halnya bila sains berkata ‘manusia mustahil berasal dari turab’, atau agama mengklaim ‘manusia mustahil berasal dari evolusi’. Bila klaimnya demikian, barulah kita bisa menyatakan keduanya kontradiktif. Itu hanya sebagian contoh saja, masih banyak contoh yang lainnya misalnya tentang semesta dst. Namun saya ambil satu contoh saja, takut malah menjadi tambah buram pemahamannya.

Saya harap anda bisa mulai menganalisis contoh perselisihan pendapat lainnya dengan menggunakan piranti dari mantiq. Tahap-tahapnya: pastikan definisi (hadd) dari masing-masingdi level konsepsi (tashawwur) benar dan disepakati dua belah pihak yang mempertentangkannya; lalu identifikasi cakupan petandanya (dalalah) apakah beririsan; dan baru kemudian tengarai apakah klaim yang diajukan masing-masing memenuhi syarat-syarat kontradiksi (tanaqudh).