Catatan Ngaji Mantiq #1: Esensi dan Aksiden

By: Hanif Muslim | 11 Januari 2021 | 47
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

Jika diperas dan dikemas menjadi sesederhana mungkin sejatinya dalam ilmu mantiq hanya ada dua pembahasan yang pertama tashawur (konsepsi) dan tasdiq (justifikasi) adapun pengertian konsepsi disini tidak hanya terkait uraian bagaimana pemahaman dan konsepsi itu dibangun serta bagaimana menyusunnya. Tetapi lebih jauh dari hal tersebut mantiq  juga menyajikan  sifat-sifat atau atribut, dan hal-hal lain yang diniscayakan adanya oleh konsep itu.

Analisis semacam ini berguna untuk mengurai sekaligus memilah dan memilih dari suatu konsep, mana yang merupakan inti dan mana yang luaran; mana yang mesti ada dan mana yang boleh dinomorduakan. Di samping berguna untuk mengurai klaim-klaim pengetahuan pada umumnya, dalam ilmu-ilmu keislaman analisis ini krusial dalam setiap bidang keilmuan, karena sering kali dibagian inilah kita lemah atau bahkan tidak mampu untuk melihat mana yang lebih penting dan yang mesti diprioritaskan

Sebagai gambaran bagaimana analisis ini bekerja, kita bisa memakai contoh klasik dalam mantiq, yakni tentang konsep manusia. Pengertian yang umum dipakai untuk mendefinisikan manusia dalam mantiq dan buku-buku filsafat pada umumnya ialah hewan yang berpikir (hayawan nathiq atau rational animal). Dengan definisi ini, manusia terbentuk dari dua unsur inti, yakni sifat hewani (butuh makan, bernapas, tumbuh dan berkembang biak, dst) ditambah kemampuan berpikir rasional. Di samping sifat inti ini, manusia juga memiliki sifat-sifat yang lain;  seperti tinggi, ganteng, cantik, kurus tertawa menangis baperan, bergerak dan diam dst. 

Apa yang membedakan dua hal di atas? Yang pertama disebut esensi, sedang yang kedua disebut aksiden. Mantiq menyebut esensi dengan dzatiy  istilah yang dipakai di dalam kitab sullamul munauraq atau bisa juga mahiyah salah satu istilah yang  sering digunakan oleh para failosof,  sedangkan untuk yang aksiden imam Al-akhdari  menyebutnya dengan ‘ardh. 

Dalam perkembangannya kedua hal di atas senantiasa bertebaran pada setiap kehidupan yang kita jalani, pada kasus pernikahan misalnya, kita bisa memililah dan tau bahwa akad lah sesuatu yang esensial yang membuat sepasang pengantin menjadi sah menjadi suami istri, sedangkan cincin hanyalah aksiden, tanpanya pernikahan itu tetaplah sah. Atau  pada kertas putih misalnya, yang merupakan esensi dari keduanya tentu saja adalah kertas itu sendiri, karena pada saat kertas itu dicelupkan pada tinta dan dan tidak berwarna putih lagi kertas itu tetap lah dinamakan kertas. Mudahnya, esensi adalah hal-hal yang membentuk X yang jika satu saja dari hal-hal ini hilang, maka X bukan lagi merupakan X. Aksiden, sebagai lawan dari esensi, ialah hal-hal yang ternisbahkan kepada X, tetapi jika hal-hal ini hilang, X masih tetap X. Pada contoh di atas tadi, Anda bisa mulai membayangkan perbedaan dua hal ini. Ingat, tashawwur secara literal berarti ‘ketergambaran’, yakni bagaimana suatu konsep terbayangkan dalam pikiran.

kita akan kesusahan membayangkan dalam pikiran “sebuah kertas tanpa kertas”, pernikahan tanpa akad atau pun manusia yang tidak memiliki unsur hewani, yakni yang tidak terbentuk dari tubuh/fisik yang tumbuh, bernapas, butuh makan, dst. Namun mudah bagi kita untuk menghilangkan sifat-sifat seperti tinggi, pendek, cakep, biasa, bahagia sedih, kurus, gemuk  dst, dari gambaran Anda tentang manusia. Dan kalaupun sifat-sifat ini diganti dengan sifat lain misalnya, warna kulit cokelat kita diganti dengan putih, atau tinggi 170 cm diganti menjadi 140 cm, manusia dalam pikiran kita masihlah manusia. Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa unsur-unsur hewani dan kemampuan berfikir manusia adalah sesuatu yang esensial, sedangkan unsur-unsur yang bisa dihilangkan adalah aksiden

dan sesuatu yang penting saya utarakan sebelum dikeselatankan adalah, meskipun esensi itu penting bukan berarti hal itu mengafirmasi bahwa aksiden itu tidak terlalu penting, saya katakan keduanya sama-sama memiliki kedudukan yang penting karena keduanya tidak saling menegasikan satu sama lain. makanya dalam kitab sullamul munauraq dan buku-buku mantiq lainnya keduanya sama-sama dibahas.

Selain esensi dan aksiden, sebenarnya masih ada satu lagi yaitu lazim namun karena ruang yang tersedia tidak cukup memadai saya cukupkan catatan sesderhana ini pada esensi dan aksiden saja. mudah-mudahan bermanfaat.