Bulan temaram

By: Ahmad Imron | 24 Februari 2020 | 65
Bulan temaram
Bulan temaram

Bulan temaram

Sinar bulan temaram yang memantul dari air sungai yang seakan mengalir karena sarat dengan kebeningan, menghiasi susana sebuah perkampungan kumuh di belakang gedung-gedung yang menjulang tinggi. Suara dangdut dengan lagu sukkur, acara lawak di TV membuat gelak tawa manusia serempak mengeruak menambah kebisingan suasana. Tak pelak juga suara tangis anak yang lapar minta makan, omelan ibu-ibu rumah tangga, kata-kata kotor dan bantingan piring seolah-olah menjadi irama tersendiri di lingkungan itu. Kecuali malam hari, saat mereka tidur lelap dengan kepayahan masing-masing.

Seorang gadis kecil, Aini namanya, berjalan pelan menyusuri gang dengan hati senang dan gembira bersamaan dengan tikus yang berkejaran di comberan dengan aroma jengkol. Dia begitu gembira karena sewaktu mengaji tadi dia mendapat cerita bagus mengenai Nabi Musa dan Raja Fir’aun dari Mpok Aisyah guru ngajinya. Dia juga ingat kalau mengaji besok harus membawa mukena, sebab Mpok Aisyah telah mengajarinya shalat. Tapi dia sedih karena belum punya mukena.

            Dengan langkah pasti dia menapakkan kakinya menuju rumah kesayangannya. “Drrreek...” Bunyi pintu terbuka oleh tangan gadis kecil itu. Sejenak dia memandang ke dalam rumah. Tampak Bu Ayu (Ibu Aini) sedang bercekcokan dengan suaminya, Pak Umam (Ayah Aini) tentang uang Bu ayu yang hulang.          

            Tiba tiba “Ini lagi jam segini baru pulang! Dari mana saja kamu?”. “Dari ngaji, Bu”, Jawab Aini ogah-ogahan. “Ngaji kok sampai malam.  Pasti kamu ngelayap, pakai duit ibu ya?”, bentak Ibu Ayu.  “Idihh… Bu, Aini lagi. Pak Umam segera menyahut, “Beginilah Ibumu kalau kehilangan duit. Padahal yang ngambil situnya sendiri”.

            “Aaah...., gak mungkin orang dianya sendiri yang ngasih duit, Dia anak baik. Nggak kayak bapaknya, sikantong kering, pengangguran lagi”. cerocos Bu Ayu. “Baik apa, kayak kadal kebiasaan si Andi aja”, sambil beranjak keluar rumah. Akhirnya Bu ayu juga keluar. Sumpek di dalam rumah memikirkan uang yang hilang. Sementara si Aini rebaha diatas dipan dengan sejuta hayalnya. Tak lama kemudian tertidur dengan terlelap.

            Sang fajar telah menyingsing, sinar matahari menembus celah-celah atap. Sementara si Andi masih terlelap dengan mimpinya karena subuh tadi baru pulang dari perjudian. Dan benar kata Pak Umam, uang Bu Ayu di ambil si Andi untuk berjudi. Dan seperti biasanya, Aini melangkah berjualan buku di pasar terlaris, sedangkan Bu Ayu bersungut-sungut pergi mencuci beras di sumur sebelah rumahnya, juga Pak Umam pergi ke pasar ayam untuk membelinya yang baru, karena ayamnya tak berkutik lagi dihantam lawannya. Sementara air sungai yang seakan tak mengalir karena sarat dengan sampah itu semakin pucat diterpa sinar matahari.

            Kegelapan malam mulai merambat. gema adzan maghrib sayup-sayup mulai terdengar. Buru buru Aini memakai kerudungnya dan membawa sebagian uang untuk diberikan kepada Mpok Aisyah buat beli mukena, (nyicil). Aini terburu-buru untuk sampai ke Mpok Aisyah, sampai pertengahan jalan, di ujung gang banyak anak-anak muda yang agak gila bergerombol, Aini mempercepat langkahnya, dan sekilas dia melihat kakaknya di antara anak muda itu. “Heh..., mau kemana malam-malam begini, keluyuran?”, tanya Andi yang sedang mabuk sambil meraih bau Aini, adiknya. “Ee...,  mau ke rumah temen, kak”, jawab Aini “kamu bawa apa di sakumu?”,  lanjutnya. Aini menghindar karena ia takut kalau uang itu di ambil kakaknya. “he.... mau kemana? berikan dulu uang itu”.  “Jangan.., jangan.., kak..,” Aini ketakutan. Tangan Andi mencoba meraih tubuh adiknya, namun Aini segera menghindar. Sebuah mubil sedang melintas tepat ketika Aini menghempaskan tubuhnya menhindari raihan tangan kakaknya. Dan, braaaaakkk”, tubuh Aini terpelanting. Kepingan uang logam berhamburan seiring dengan darah segar mengalir dari tubuh Aini. Ia terkulai, matanya terbuka sesaat. Lalu terpejam dan gelap. Seketika itu juga orang berkerumun. “Tabbrakan.....!!”. Andi hanya diam bagai terpaku. Sementara langit semakin gelap, tampa bulan, walaupun hanya dengan temaramnya.                                                                                                                

By                : Sadili Hidayat                    

Aktivis         : Syurga Banyuanyar

Delegasi       : (MDQ)