Bersyukur dan Tak Takabbur

By: Admin | 21 September 2018 | 43
Bersyukur dan Tak Takabbur
Bersyukur dan Tak Takabbur

BERLATIH untuk memiliki kekuatan itu bagus, tapi merasa perkasa itu tidak benar. Kalimat ini mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur bukan takabbur. Jika kita hendak melakukan perubahan maka sulit bagi kita untuk bersyukur. Karena sejatinya bersyukur itu bukan dihitung dari arah perubahan kita, melainkan diukur dari sejauh mana kita menerima nikmat, rahmat, maghfiroh dan maunah-Nya untuk senantiasa mengingat dzat Allah yang luar biasa.

Pernah anda merasakan kesakitan yang amat. Misalkan sakit gigi atau gigi sensitif, dan anda mempunyai tubuh kekar ala Ade Ray, jangan sok dulu, karena kalau sakit gigi itu melanda, jangankan tubuh yang kurus, tubuh yang kekar saja terpontang-panting. Semuanya memang harus dijadikan hikmah, diambil pelajaran dan jauhkan sifat sombong yang berakhir dengan dibenci orang. Sekali lagi bersyukur, hal yang paling sulit untuk dijadikan sebuah kebiasaan.

Saat ini kita disuguhi dengan berbagai elektronik yang dihidangi untuk kepentingan pokok dan bertahannya globalisasi. Sehingga banyak yang berlomba-lomba untuk mejadi orang terkenal. Tindakan seperti ini mengajarkan kita untuk introspeksi diri, semuanya bisa dieliminasi untuk memfilter hal yang buruk dan berusaha memanfaatkan yang baik.

Karena yang Maha Perkasa hanya Allah, kita hanya la haula walakuwata illa billahil ‘aliyil’adzim. Hikmahnya kita harus sadar bahwa kita ini sepenuhnya punya kekuatan ruh dan dimiliki Allah dalam bentuk apapun. Oleh karena itu kita diajarkan untuk mentadabburi segala yang terjadi. Allah meletakkan rasa kantuk dalam diri manusia, jika kita sudah merasa ngantuk, maka jalan terbaik untuk mengobatinya dengan tidur. Tidak ada cara lain, jangan mengandalkan otot jika ngantuk melanda tubuh kita.

Saat ini banyak yang harus kita rubah agar segalanya terasa mudah dijalani. Kini banyak sekali bukti nyata yang mengharuskan kita untuk kembali merenungi nasib yang Allah berikan untuk tidak menjalankan dengan seenaknya saja. Melainkan dengan berusaha menggerakkan hati menuju jalan suci yang Allah cantumkan dalam kalam-kalam penuh makna dan kaya akan sastra. Perjalanan hidup memang sangat jauh berbeda dengan perjalanan kita dari Madura ke Jember.

Perbedaannya hanya dalam tujuan. Jika dalam perjalanan hidup kita bertujuan mengharap ridho-Nya, maka otomatis segala yang menjadi amal baik akan terlaksana sebagaimana disyari’atkan dalam Islam. Sedangkan perjalanan kita yang hanya sekedar liburan, kunjungan, kondangan dan semacamnya bertujuan agar senantiasa mengharapkan kehendak yang kita inginkan. Hal ini yang mengindikasikan bahwa segala yang menjadi tujuan kita akan termaktub dalam niat dan kehendak yang kita harapkan.

Destinasi inilah yang mengedepankan kesuksesan. Tujuan yang baik akan menghasilkan nilai moral yang baik pula. Ketergantungan akan usaha kita tak menjadi hal yang sakral dalam kehidupan. Karena sifat kebergantungan inilah yang menggerakkan kita untuk lemah dan tidak percaya diri. Memang di dunia ini kita butuh teman, namun tak selamanya kita harus ikut teman. Kita juga harus mempunyai prinsip yang membangun jati diri kita lebih baik.

Prinsip yang baik juga harus berawal dari niat yang baik. Hal ini yang menjadi tujuan akhir dalam prinsip yang kita miliki, tujuan akhir tersebut ialah mengharap ridho dan syafaat Rosul-Nya.

Semoga bermanfaat!!!

Maron Al-Hafdzoh