Belajar Kasih dari Kisah

By: Hanif Muslim | 01 Maret 2021 | 297
Banyuanyar.net
Banyuanyar.net

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang penuh dengan sejuta hikmah kisah dan kasih di dalamnya yang sangat disayangkan sekali jika dilewatkan begitu saja tanpa kegiatan amaliah positif, ibadah, puasa dst. Minimal, merenungi dan mentadabburinya, misalnya.
berikut penulis mencoba merangkai potongan kisah yang begitu menakjubkan yang pernah terjadi pada bulan rajab, meskipun mesti diakui sampai kapan pun kisah ini  tidak akan pernah mampu diungkap secara sempurna dengan bahasa hakiki maupun metaforik. 
Namun, semoga saja tulisan ini dicatat sebagai bentuk tadabbur dan ibadah penulis yang dhaif dan tidak terlalu pandai mengambil kasih dalam setiap kisah ini.

Dikisahkan saat Nabi Saw. sedang dalam perjalanan dari Makkah menuju Palestina, ditemani oleh Malaikat Jibril dan Mikail dengan Buraq sebagai kendaraannya. Malaikat Jibril berkata "Wahai Nabi, turun dan sholatlah di sana" sembari menunjuk sebuah pohon
Nabi turun dan shalat sunnah dua rakaat.
Kemudian malaikat Jibril berkata, "Apakah Anda tahu di mana Anda sholat tadi?".
Nabi menjawab, "Tidak"
"Anda sholat di Pohon Nabi Musa"

Syaikh Najmu ad-Din al-Ghaythi, berkomentar dalam Hasyiyah ad-Dardir-nya kenapa Nabi diperintahkan untuk sholat di "Pohon Musa" adalah karena pohon itu pernah digunakan sebagai tempat berteduh oleh Nabi Musa, saat beliau melarikan diri dari Mesir. Sehingga hal ini termasuk "At-Tabarruk bi atsar as-shalihin wa manazilihim".

Dari potongan kisah perjalanan yang luar biasa ini sekurang-kurangnya pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa Nabi Muhammad adalah mahluk yg paling mulia, namun beliau masih memuliakan segala bentuk kemuliaan, meskipun kemuliaan itu lebih kecil dibanding dirinya. Lebih dari itu, beliau tidak hanya memuliakan orang yg mulia (Nabi Musa), bahkan pada tempat yg pernah menjadi perekam dari napak tilas itu (pohon) pun ikut beliau muliakan.
Maka bagi mereka yangg suka mengkafir atau membid'ahkan orang-orang yang senang berziarah di makam wali, penulis kira akan lebih bijaksana jika mau melihatnya terlebih dahulu dengan baik, mengamati dengan teliti dan menganalisa dengan seksama.

benarkah mereka berziarah untuk meminta terhadap kuburan atau itu hanya bentuk penghormatan mereke di makam ulama yg mencintai Allah dan Allah mencintai mereka?
Sebab, jika mereka dikafirkan dengan alasan menyembah kuburan, maka sama dg berkata bahwa Nabi Muhammad juga kafir, karena beliau pernah sholat di samping "pohon" Apakah tidak demikian logikanya?