Belajar Bersabar Dari Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam

By: Abdullah Tamami | 11 Maret 2020 | 930
Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam
Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam

Belajar bersabar dari baginda Nabi Muhammad Saw

(Renungan untuk yang sedang dilanda cobaan atau ujian)

Oleh : Sabiqul Mubarak

            Dalam mengarungi kehidupan, manusia pastilah akan berhadapan dengan sebuah ujian atau cobaan, tak ada seorang pun yang tak luput dari ujian, karena memang kehidupan dunia ini merupakan sebuah ujian, sebab itu dunia ini juga disebut dengan Dar Al-Ibtilak (Rumah Ujian). Sesuai firman Allah dalam surah Al-Mulk ayat kedua yang sering kita baca itu, yang artinya: “Dialah Dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya?”

            Setiap diri kita, pasti pernah merasakannya, entah itu kesedihan karena kegagalan, sakit hati, perpisahan, atau pun kematian. Kita telah tahu itu semua pasti terjadi pada diri kita, tetapi mengapa terkadang kita mengeluh, tak menerima dengan tulus akan kenyataan. Itu bukan karena ujiannya, melainkan perspektif kita dalam menghadapinya yang salah.

Pernahkah kita berpikir, siapa orang yang paling berat ujiannya? Terkadang kita merasa orang paling sengsara, dengan beranggapan ujian yang menimpa kita sangat berat. Malulah kita kalau membaca sejarah kehidupan orang-orang baik terdahulu, terlebih Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam yang merupakan panutan kita, Uswatun Hasanah (Suri teladan yang baik).

            Marilah sejenak kita rehat, mengenang kehidupan junjungan kita itu. Beliau yang mempunyai kududukan tinggi di sisi Allah Subhanahu Wa Taala, Hingga menjadi paling mulianya para Nabi, bahkan paling baiknya manusia semesta alam, terlebih beliau menyandang predikat Habibullah, kekasih Allah. Namun perlu kita ketahui, bagaimana proses kehidupannya yang sederhana namun sempurna.

            Betapa teguh hatinya manghadapi ujian kehidupan, alangkah sabar ia menerima cobaan-cobaan, begitu teguh pendiriannya dalam memperjuangkan kebenaran, sungguh indah perangainya dalam segala keperibadian, patutlah ia mendapat gelar Al-Amin.

            Ketika ia dalam kandungan, Abdullah ayahandanya wafat sebelum sempat ia mengecup keningnya, belum dapat bergembira riang mempunyai buah hati kesayangan. Diasuhlah ia yang yatim itu oleh ibundanya penuh kasih sayang, walau hidup dalam pas-pasan. Penuh semangat ibundanya mencari secercah harapan dan penghidupan, sampai suatu ketika dalam perjalanan, saat sang Nabi masih umur enam tahun usianya, sebelum ia mengenal banyak belas kasih ibundanya, sebelum bisa membuktikan baktinya langsung di hadapan ibunda tersayang, ibundanya yang berjuang untuknya, wafat saat perjalaan pulang. Lengkaplah ia sebagai yatim piatu.

             Setelah kesedihan itu berlarut dalam sosok jiwa yang akan menjadi seorang utusan itu, ia diasuh oleh kakeknya yang bernama Abdul Muttolib, tak berapa lama ia pun harus ditinggalkan terlebih dahulu oleh sang kakek, berlanjutlah ia diasuh oleh pamannya, Abu Tolib. Sang yatim piatu itu pun berkelana mengikuti sang paman, berjalan, mengebala kambing, berdagang, sampai nan jauh di sana, ke luar kota maupun luar negeri.

            Tak cukup disitu ujian yang ia terima, setelah ia menjadi insan terpilih, diutus oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Ia memperoleh perlakuan kejam oleh orang-orang kafir yang tak mempercayainya, bahkan oleh kaumnya sendiri, padahal sebelum ia menjadi rasul, mereka sangat cinta dan sayang kepadanya, melebihi kepada anak mereka sendiri, karena memang ia sebelum diutus sudah tersohor sebagai orang yang baik hati, yang dielu-elukan setiap orang, sebab perangainya yang bagitu baik dan terpuji, sesuai dengan namanya Muhammad. Mereka pun menjulukianya dengan Al-Amin, orang yang terpercaya.

            Ia mendapat perlakuan yang tak baik dari mereka orang kafir, berupa celaan, ancaman, dan siksaan, namun apakah ia membalas dengan sedemikian ruapa? Tidak, malah ia membalas semua itu dengan kesabaran dan kebaikan, ia berkata: “Ya Allah mohon berilah mereka petunjuk..! sesungguhnya mereka kaum yang tak mengerti”

            Melihat perlakuan kaumnya seperti itu, ia pun terima dengan sabar dan tenang, walau dia harus berdarah kakinya sebab siksaan, dilempari kotoran di tengah jalan. Ia pun mencoba mencari jalan keluar, pergi ke sana ke mari mencari orang yang akan beriman, seketika ia berlari menuju Thaif penuh dengan pengharapan, sebab kaumnya sendiri pun telah mendustakan.

Akan tetapi, apa yang terjadi, ibarat lari dari kejaran singa menuju sarang ular. Perlakuan orang-orang Thaif tak ubahnya dari orang-orang kafir mekkah, mereka menolaknya, bahkan melemparinya dengan bebatuan. Saat perjalan pulang dengan kesakitan, di tengah perjalanan dalam keadaan peluh basah dan bersimpuh darah, ia bertemu dengan malaikat, lalu beliau ditanya, jika berkenan malaikat itu akan membinasakan orang-orang yang telah durhaka kepadanya, kalau ia sudi, malaikat itu akan membumi-hanguskan mereka dengan gunung yang tinggi di dekatnya itu. Tapi apa yang ia lakukan? dengan penuh kasing sayang beliau menolak tawaran itu, dengan harapan semoga keturunan-keturunan mereka kelaklah yang akan menjadi umat setianya.

Ma sya a Allah..! sungguh lemah lembut hatinya, teguh kesabarannya, indah perangainya. Oleh karena itu, akhirnya benar sekali harapannya, ternyata di akhir episode, banyak dari golongan mereka yang menjadi grada terdepan dalam menolong dan menyebar-luaskan dakwahnya. Terbukti benih kesabarannya menjadi panen buah keberuntungan dan kemenangan.

Begitu banyak lika-liku ujian yang ia lalui, saat ia diusir dan disiasati akan dibunuh oleh kaumnya, ia memilih pergi dengan sahabat setianya Abu Bakar, menuju Goa Tsur yang jalannya begitu sulit bagi kaki, bebatuan begitu terjal, terik panas yang menyengat, ditambah jaraknya yang jauh itu, ia rela melakukan itu semua demi memperjuangan dakwahnya, demi kasih sayang pada ummatnya.

Sampai di goa itu yang tak begitu luas, ditambah gelap yang pengap, suasana mulai mencengkam, karena musuh sudah mengintai dekat area persembunyian. Sahabatnya mulai sedih, cemas dan khawatir, ia dengan tenangnya berkata: “Janganlah bersedih, sungguh Allah bersama kita” dengan keyakinannya itu, Allah menyelamatkan mereka dari arah yang tak diduga-duga, segerombolan hewan kecil turut membantu memperjuangkan dakwahnya, bukti akan kebenaran ajaran yang ia bawa.

Dalam perjanjian Hudaibiayah, siasat perdamaian yang pincang itu, lebih berpihak kepada kaum musyrik, sebagian isinya: Tak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun, rakyat dalam keadaan aman, dan saling melakukan gencatan senjata. Bila datang seorang Quraisy Muslim kepada Muhammad tanpa persetujuan walinya, dikembalikan kepada mereka, dan bila salah satu dari kaum Muhammad mendatangi Quraisy, mereka tak perlu mengembalikannya.

Umar Radiyallahu Anhu yang wataknya tegas itu, merasa keberatan akan perjanjian Hudaibiyah, seraya berkata: Bukankah kita orang-orang Muslim? bukankah mereka orang-orang Musyrik? tapi mengapa kita memberi kehinaan dalam agama kita? Apakah kita kembali kepada masa dimana belum sampai kemenangan bagi kita? Padahal kita sekarang lebih kuat dan kuasa?

Apakah jawaban Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam? Ternyata ia dengan penuh kewibawaan dan keyakinan berkata: “Saya ini hamba Allah, dan Allah tidak akan mengecewakan aku” Siapa sangka, ternyata benar, dari perjanjian itu banyak hikmah dan keuntungan yang diraih, yang pertama karena memang Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam diutus untuk perdamaian dunia, rahmat bagi alam semesta, dan juga akhirnya malah orang-orang musyrik yang melanggar sendiri siasatnya terlebih dahulu, karena tidak kuat dan lemah, yang berujung akan kekalahan mereka, dengan berbondong-bondongnya orang-orang Islam memasuki makkah, menunaikan ibadah dan bisa mengusainya, dan lahirlah peristiwa Fathu Makkah yang bersejarah itu.

Begitulah jalan yang ditempuh oleh baginda Nabi Muhammad, dialah seorang manusia biasa, namun luar bisa, sempurna, walau beliau adalah kekasih Allah tetap menjalankan fitrah manusianya, mengapa tidak, terkadang beliau dengan jerih payah memperjuangkan Islam, walau harus darah bersimpuh, badan melemah, sakit yeng bertubi-tubi, seketika rasa lapar yang amat sangat ditahan dengan batu, dengan mengencangkan ikat pada pinggangnya.

Pernah suatu ketika Sitti Aisyah Radiyallahu Anha bertanya-tanya karena tak tega melihat keadaan Rasulullah yang sholat sampai larut malam, sampai kakinya bengkak, kedua matanya lembam sebab menangis dalam bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Taala Terus apa jawab Rasulullah ketika ditanya: “Bukankah engkau Rasulullah telah diampuni dosa-dosa yang lampau dan yang akan terjadi?” (dan kerena memang Rasulullah tak punya dosa yakni Ma’sum dari segala dosa), dengan penuh ketenangan Rasulullah menjawab: “Tidaklah aku menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur?”

Karena itu semua, Allah sangat mencintainya, rela terhadapnya, sesuai dengan penjelasan Allah yang terekam indah dalam surah Wad-Duha itu: “Tidaklah Dia menemukan engkau (Muhammad) dalam keadaan yatim, maka Dia menolongmu, dan menemukan engkau dalam kebingungan, maka Dia menunjukkanmu, dan menumukanmu dalam keadaan miskin, maka Dia membuatmu kaya, dan Dia akan memberimu maka engkau akan Ridha”

Nabi Muhammad bukan hanya kaya harta, namun kaya hati, yang merupakan kekayaan sejati yang paling besar, kunci kebahagian. Taukah kita, saat Islam telah jaya pada masa Rasulullah, ummat sudah banyak, harta melimpah, kebutuhan ummat terpenuhi, dengan keuntungan yang bergelimpangan. Dikisahkan suatu ketika Umar Radiyallahu Anhuyang telah ke sana ke mari mengelilingi bangsa-bangsa besar, pernah melihat kerajaan Persia begitu megah istananya, kerajaan Romawi yang tak kalah megah istanaya. Namun ketika ia melihat keadaan pemimpinnya, Baginda Nabi Muhammad, ia tak tega memandangnya, sampai menetes air matanya, melihat Rasulullah yang hanya beralaskan tikar dari pelapah pohon kurma, hingga membekas di pundaknya.

Begitulah seorang yang Ridha terhadap tuhannya, tak pernah mengeluh, tak pernah berkeluh kesah, karena sangat yakin bahwa tuhan tidak akan menyia-nyiakannya.

Dia seorang Nabi, utusan Allah, kekasih Allah, junjungan para Nabi dan Rasul, baginda ummat manusia, tak pernah berbuat dosa, kesalahannya diampuni, syurga terjamin, doa pasti dikabul, tapi apa yang ia lakukan ketika ujian datang bertubi-tubi, cobaan tak henti-henti, sakit bekali-kali. Yang beliau lakukan ialah sabar, tabah, ridha atas segala yang ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Taala karena memang itu tujuannya para ahli syurga “Allah ridho terhadap mereka, dan mereka pun ridho terhadap Allah”