Batu Amalan

By: Ach. Jalaludin | 20 Oktober 2020 | 110
gambar  ilustrasi
gambar ilustrasi

Kakek masih tertawa sejak aku beritahu akan adanya anjing pemakan jejak. Anjing ini akan mengikuti jejak anak kecil, dan di tempat sepi anjing itu akan memakannya. 

Cerita itu jadi buah bibir di antara teman-teman sepulang sekolah. Penangkalnya adalah bambu kuning. Pagi sekali aku minta penangkal itu ke kakek, minta carikan. Sebab itulah kakek tertawa cekikikan. 

"Kata siapa itu, Lal?" Tanya kakek masih menahan tawa. Ceritaku membuatnya harus menyudahi pakerjaannya, yaitu menuagkan madu ke dalam botol. Entah dapat dari mana madu itu. 

"Kata teman kek, di kampung sebelah pernah ada yang kehilangan cucunya gara-gara anjing itu." 

"Bhahaha... kakek kok tidak mendengar berita itu."

"Ya kakek kan di rumah saja." Sanggahku. Padahal kalau kakek tau, di sekolah tadi banyak guru-guru yang tengah berunding atas kejadian itu. Pandu yang memberitahunya. 

"Dulu kakek punya batu amalan." Ketus kakek. "Batu itu dimasuki arwah penjaga gua Manisan di atas bukit itu. Siapa yang mempunyai batu itu akan sakti dan mempunyai kekebalan tubuh." 

Bukit yang dimaksud kakek adalah bukit yang tak jauh dari rumah. Bukit itu terkenal angker, aku dan teman-teman tidak ada yang berani ke sana. Pandu mengatakan, itu tempat persemedian dukun sakti. 

"Sekarang batunya di mana, Kek?" 

"Sekarang kakek simpan di bawah lemari, jadi kenang-kenangan, hahaha..." Kakek masih terus tertawa. 

"Berarti kakek sakti dong!" 

"Bhahaha.. yang ada bukan sakti, malah gendheng (bodoh sekali), hahaha." 

Aku tidak tau maksud kakek apa, bukankah kakek sudah punya batu amalan, harusnya sakti dong. 

"Baiklah, kakek akan ceritakan."
*
Dulu sekali saat kakek dewasa, desa ini masih kampung sekali. Menurut kabar yang beredar, entah siapa yang mengatakan itu pertama kali. Bahwa barang siapa yang bersemedi di dalam gua Minisan akan mendapatkan banyak kesaktian. 

Kakek malas menanggapi isu itu. Tapi ada teman kakek, namanya Bahar, kakeknya si Pandu. Dia sangat antusias sekali. Dia berniat untuk bersemedi dalam gua tersebut tengah malam sampai pagi. 

Bahar juga berencana membawa ayamnya yang beberapa kali memenangkan pertandingan sabung ayam. Bahar tidak mau kalah dengan kampung sebelah, mungkin dengan membawa ayamnya, ayam itu juga akan sakti dan kebal. 

"Nggak usah percaya hal begituan, Har, itu hanya mitos." Ucap teman lain ketika Bahar menyanggupi untuk bersemedi. 

"Siapa tau. Bapakku dulu, pernah bermimpi melihat keris di dalam gua itu yang harus diambil sebelum siang. Tapi karena bapak bangun kesiangan jadinya tidak bisa mengambil keris itu." Ucap Bahar. 

Tentu kami semua tertawa. Argumen Bahar membuat kami terdiam dengan tawa dalam hati. 
*

Tengah malam kakek tidak tidur. Saat itu Bahar bertekad untuk bersemedi. Dia sudah bersiap, hanya menggunakan celana pendek dan memangku ayamnya. Mulutnya sesekali membacakan amalan-amalan yang ia yakini selama ini. 

Pagi sekali, kakek sangat penasaran dengan apa yang akan didapat Bahar setelah bersemedi dalam gua Manisan. Dikatakan gua Manisan karena banyak menyimpan madu. Warga tidak berani mengambil karena metos yang telah beredar bahwa gua tersebut ditempati arwah dukun sakti. Kakek pun enggan memasukinya. 

Saat kakek hampir sampai di depan gua Manisan, ternyata Bahar lebih dulu keluar. Dia tampak tak ceria, tertunduk dengan wajah yang sedikit berbeda, yang membuat kakek menahan tawa. Apa lagi dengan keadaan memangku ayamnya. 

"Bahar!" Kakek memanggilnya dari kejauhan, dia tampak terkejut. Lalu membusung dada seolah baru mendapatkan barang paling berharga. Kakek tidak paham dengan bahasa tubuhnya. 

"Apa yang kau dapat?"

Dengan percaya diri Bahar merogoh celananya, dan menunjukkannya pada kakek. 

"Ini yang aku dapat. Ini adalah batu sakti, siapapun yang mempunyai batu ini, dia akan sakti dan kebal terhadap apapun." Ucapnya menyakinkan. 

Saat itulah kakek tertawa lepas, melihat Bahar yang semangat sekali mengucapkan kalimat itu dengan wajah yang dipenuhi sengatan lebah. 

"Bhahaha..  kalau kamu memang kebal, kenapa tubuhmu dipenuhi sengatan lebah, hah?"

Bahar agak lama terdiam. 

"Ya ini sebelum aku mendapatkan batu ini." Dengan wajah yang timbul di sana sini akibat sengatan lebah membuatnya tampak jelas dia mencari-cari alasan. 

"Benarkah? Bukannya saat subuh aku mendengar kokokan ayam yang keras dari arah gua?." 

Kakek sangat tertawa saat itu, kelakuan dan keadaan si Bahar sangat lucu. Bisa dibayangkan. Saat subuh, kakek mendengar kokok ayam yang nyaring sekali dari arah gua. Itulah mengapa kakek pagi sekali sehabis shalat dengan Tuan Guru kampung di musholla langsung ke gua Manisan. Ingin tau keadaan Bahar. 

Suara kokok ayam Bahar yang nyaring itu pasti mengganggu lebah yang bersarang di situ. Di tengah Bahar bersemedi, dia pasti sangat terkejut sekali, disusul dengan sengatan lebah dari sana sini karena merasa terganggu. Kakek tidak bisa membayangkan begitu kewalahannya si Bahar. 

Di samping keinginannya yang begitu besar untuk mendapatkan kesaktian, dia harus menahan sengatan lebah. Dan saat pagi tiba, dia tidak mendapatkan apa-apa. Tentu malu jika dia keluar dengan tangan kosong. Maka dia harus mencari sesuatu untuk menjadi bukti bahwa dia berhasil, yaitu dengan menunjukkan batu sakti itu. Kakek tau sekali karakter si Bahar. Bahaha.... 

Bahar terlihat sangat murung, ternyata dia gagal dan memang kesaktian itu hanya mitos. Untuk itulah dia memberikan batu tersebut pada kakek. 

"Aku punya permintaan padamu. Batu sakti ini untuk kamu, asalkan jangan dikasih tau ke teman-teman. Tentang kejadian ini." 

Kakek sangat menghargai si Bahar. Untuk itu kakek terima batu sakti tersebut, meski kakek tau batu itu sama dengan batu manapun di kampung ini.
*
Mendengar cerita kakek ada lucunya juga, aku sangat kasian sama Pak Bahar, kakeknya Pandu. 

"Jadi batu kakek nggak sakti ya." 

"Batu itu tetap sakti. Tidak ada yang mampu menggantikan kenangan paling berharga antara kakek dengan si Bahar itu." 

"Yah.. cuma kenangan saja." Keluhku. 

"Anak kecil tau apa, ini madunya diminum." Kakek memberikan madu yang sudah kakek saring berusan dalam sebuah botol. 

"Dapat dari mana, kek?" 

"Dari gua Manisan."

By; Jha Lal