Antara Etika dan Gaya

By: Admin | 21 September 2018 | 181
Antara Etika dan Gaya
Antara Etika dan Gaya

oleh : Syaiful Bahri

ALANGKAH indahnya hidup dalam taat terhadap setiap titah Tuhan. Melangkah pasti dan optimis. Penuh keseimbangan antara perhargaan dan syukur akan penciptaan yang penuh akan kasih sayang.

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa manusia mempunyai rasa bangga dan ingin dibanggakan. Ingin terlihat sempurna secara fisik di mata manusia lainnya. Dipuja-puja sebab kecantikan yang dimiliki. Hingga lupa diri. Lupa bahwa nilai ilahi itu tidak semata dari fisik saja. Lupa dan memilih untuk bertingkah menurut kehendak diri. Itu kadang disebut bergaya. Fashion.

Membahas tentang gaya kadang hal ini yang menjadi penyebab merosotnya topangan hidup. Sampai nilai dan citra seseorang redup. Yaitu Etika atau Ahklaqul Karimah.

Padahal kebanggaan yang mereka idamkan hanya akan mudah didapat dengan menjujung dan mempritaskan kebaikan etika dalam setiap momen keseharian dan kebersamaan. Maka benarlah maqal hikmah ulama' itu :

" بناسل نتسال نتاسنا نتانسا نتانسا نتلانس هخص  "

Artinya “ Tak dikatakan sukses seseorang yang sukses kecuali dia telah bisa menghormati dan menghargai orang lain dan tidak dikatakan gagal seseorang yang gagal kecuali apa bila dia tidak bisa menghormati dan menghargai orang lain”

Mengambil hikmah dari maqal tersebut ada cambuk tersendiri bagi kita sang pejuang cinta di mata sesama, bahwasanya dengan etika baiklah kejayaan yang dibanggakan akan mudah dirangkul dan didekap oleh jiwa sang penilai.

Baik Etika bertambah kesederhanaan dalam gaya, karena hidup itu mudah indah yang mahal adalah gaya yang tidak pernah menemukan tempat untuk istirahat dan singgah.

Sehingga tidak sepantasnya dalam bergaya, seseorang melupakan etika. Karena etika itu adalah yang utama. Yang menggambarkan baiknya jiwa manusia. (*)