Amalan Baik di Masa Pandemi

By: Ach. Jalaludin | 30 Maret 2021 | 76
ilustrasi oleh jhalal
ilustrasi oleh jhalal

Gus Badrun melihat Kang Didin yang merasa bersalah sedikit iba, dengan perekonomian masyarakat yang semakin menurun disebabkan wabah membuat orang-orang ingin mencari jalan alternatif. Menurut berita di TV dan koran, tindak kriminal seperti pencurian dan perampokan kerap terjadi di masa pandemi.

Bagi Gus Badrun, masyarakat yang mencari jalan alternatif untuk membantu perekonomiannya dengan mengandalkan do'a dan amalan masih lebih baik dari pada harus melakukan tindak kriminal. Pandemi ini merubah segalanya, dari harga kebutuhan pokok hingga banyak pekerjaan yang dihentikan membuat masyarakat tidak tau harus kerja di mana.

Belum lagi para tetangga yang bekerja di luar negeri, tidak sedikit yang meminta untuk dikirim uang dari rumahnya karena di luar negeri juga mengalami pandemi serupa. Maka wajarlah banyak yang menemui Gus Badrun untuk meminta do'a-do'a khusus. Meski begitu, Gus Badrun berusaha untuk menjelaskan tanpa harus menyinggung hati masyarakat.

"Gini saja, coba setiap pagi Kang Didin membaca habunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir tujuh ratus lima puluh kali, ketika matahari mucul cobalah untuk shalat isyraq."

"Ini untuk apa, Gus?"

"Itu amalan, kalau dikerjakan dengan benar insyaallah dapat membantu mendatangkan rezeki. Tapi ya, jangan itu yang jadi prioritas, Kang Didin tetap harus berusaha dan bekerja keras."

"Insyaallah, Gus. Terima kasih banyak, sekaligus saya mau pamit." Pinta Kang Didin, ia langsung menciumi tangan Gus Badrun dan berbalik pulang.

"Oh iya, Kang." Ketus Gus Badrun menghentikan langkah Kang Didin yang hendak keluar. "Itu di sebelah barat pondok ada tanah, dulu santri biasa menanam sayur di situ. Kalau Kang Didin punya tanaman, mungkin bisa memakai tanah itu."

"Oh.. insyaallah siap, Gus."

*

Sudah satu minggu Kang Didin tidak ada kabar. Tanah yang dipasrahkan oleh Gus Badrun untuk ditanami belum juga ada tanda-tanda ingin ditanami. Memang setiap hari Rabu di jadwal pengajian Kang Didin sempat hadir, tetapi entah kenapa tidak menemui Gus Badrun seperti biasa.

Oleh karena itu, Gus Badrun di hari Rabu berikutnya menyuruh santri untuk memanggil Kang Didin sehabis pengajian. Kang Didin menemui Gus Badrun agak ragu, dirasanya seolah mendapatkan kesalahan.

"Enggih, Gus." Kata Kang Didin setelah mencium tangan Gus Badrun.

"Rencananya kapan tanah itu mau ditanami, Kang?" Tanya Gus Badrun langsung ke topik pembicaraan.

"Belum tau, Gus, masih menunggu waktu yang tepat."

"Sebenarnya dikerjakan hari ini bisa, Kang. Kamg Didin kan tidak ada kerjaan kalau pagi. Pekerjaan sebagai penyuluh kan diliburkan."

"Iya, Gus." Jawab Kang Didin takdzim.

"Oh iya, amalan yang saya kasih apakah diamalkan, Kang?" Gua Badrun ingat pada amalan yang dikasih pada Kang Didin dua minggu yang lalu, ketika Kang Didin menemui Gus Badrun untuk minta do'a-do'a.

"Iya Gus."

"Terus setelah diamalkan, apa yang dilakukan Kang Didin?"

"Setelah mengamalkan saya langsung tidur kembali, Gus. Saya kecapekan."

"Waduh, ini kesalahan besar, Kang. Pantas Kang Didin belum memulai menanami tanah di barat pondok. Kalau dipikir-pikir, apa Kang Didin tau maksud saya menyuruh melakukan amalan itu?"

"Ya saya sami'na wa ato'na, Gus belum tau."

"Maksud saya, secara tidak sadar biar Kang Didin tidak ada kesempatan untuk tidur di pagi hari, karena kalau tidak tidur dipagi hari akan menambah rezeki. Di pagi hari sangat baik diisi dengan hal yang bermanfaat."

"Ya...  saya tidak kepikiran sampai ke aitu, Gus, maaf sekali, Gus."

"Ya itu, ketika Kang Didin tidur pagi, jadinya malas untuk mengurus tanah itu. Kang Didin, tidak ada rezeki yang gampang, bekerja di waktu pagi adalah hal paling tepat untuk menjemput rezeki. Di tahun pandemi ini, sangat baik sekali beraktivitas hal yang membantu perekonomian, seperti menghidupkan bumi, dengan cara menanam bahan makanan dan kebutuhan pokok."

"Waduh, Gus. Saya benar-benar khilaf, Gus. Saya orang awam Gus, belum tau apa-apa. Kalau begitu, insyaallah besok akan langsung saya kerjakan, Gus. Saya juga banyak kebutuhan di rumah, apa lagi anak meminta HP untuk sekolah online."

"Nah itu, jadi mumpung ada waktu dan kesempatan jangan disia-siakan. Saat ini kita harus pandai-pandai dalam mengatur keuangan. Insyaallah juga akan ada bantuan sembako dan BLT dari pemerintah, tapi kita tidak harus bergantung pada itu. Kebutuhan kita kadang tidak terduga. Membeli HP untuk kebutuhan sekolah online anak juga butuh uang banyak. Ada tiga hal yang kalau dimiliki seseorang akan tentang, pertama adalah kesehatan, keselamatan, dan kecukupan rezeki. Ya sudah, saya masih ada tamu, Kang di dalam."

"Iya Gus, terima kasih banyak nasehatnya z Gus. Saya mohon idzin." Kang Didin menciumi tangan Gus Badrun.