Al-Quran Tidak Cukup Hanya Dibaca dan Dihafal

By: Faisal Amir | 07 Januari 2019 | 461
KH. Abd. Hannan Tibyan saat mewisuda para Hafidz Al-Quran
KH. Abd. Hannan Tibyan saat mewisuda para Hafidz Al-Quran

AHLUL QUR'AN adalah orang yang membaca, menghafal dan mengamalkan Al-Quran. Surga adalah jaminan bagi Ahlul Qur’an. Semoga kita bersama mereka nanti di akhirat.

“Selagi kita saat ini masih bersama Ahlul Quran, berharap semoga kelak kita bersama dengan mereka di akhirat”

Demikian yang disampaikan oleh KH. Abd. Hannan Tibyan, dewan pengasuh PP. Darul Ulum Banyuanyar sekaligus Pengasuh PP. Puncak Darus Salam, di awal sambutannya pada wisuda Al-Quran ke VI sekaligus Penutupan MHQ Nasional 2019 SMP-SMA tahfidz Darul Ulum Banyuanyar, Senin (07/01/2019).

Beliau menyampaikan bahwa Al-Quran tidak cukup hanya dengan dihafal, namun Al-Quran harus betul-betul menjadi imaaman wanuuran wahudan warohamah. Imaman berarti tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari harus mengikuti Al-Quran, Nuuran, Al-Quran menjadi cahaya penerang dalam hidup kita, Hudan, menjadi petunjuk kemana jalan menuju keberuntungan dan warohmah, memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Beliau juga menyampaikan sebuah hadis yang artinya “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang masih muda yang bodoh akalnya, pintar membaca Al-Quran, hafal Al-Quran tetapi Al-Quran hanya sampai pada tenggorokan”.  maksud hanya sampai pada tenggorokan ialah tidak sampai kepada hati.

Maksud menyampaikan hadis tersebut bukannya untuk menakut-nakuti untuk tidak menghafal Al-Qur’an, kita tidak boleh salah memahmi hadis tersebut. Apabila salah dalam memahami maka akan salah juga dalam bertindak. Ungkap beliau.

Beliau berpesan agar dalam akal dan memori selalau disertai Al-quran. “Jangan sampai akal dan memori tidak berfungsi agar ada ruang penyimpanan Al-Quran”.

Banyak orang membaca dan menghafal Al-Quran, tetapi Al-Quran melaknatnya. Karena alquran dibawa bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Menghafal Al-Quran di zaman sekarang  lebih banyak rintangan, lebih banyak berperang dengan hawa nafsu dan berjuang yang berat untuk dapat menghafalnya dari pada di zaman dahulu. Karena dulu masih belum ada Hp, Internet dan elektronik lainnya yang dapat mengganggu untuk menghafal Al-Qur’an.

“Sukses hafal Alquran hari ini lebih sukses dari orang-orang di zaman dahulu”.

Di akhir sambutannya beliau Berharap kepada Para Wisuda Al-Quranagar tidak cukup sampai diwisuda, namun terus mengkaji, memahami dan mengukur tingkah laku setiap hari dengan Al-Quran.

“Setelah wisuda ini bukan wis sudah, tapi harus memahami, mengkaji dan mengukur tingkah laku setiap hari dengan Al-quran”.

(Faisal)