Air Mata, Indah

By: Abdul Aziz Wisol | 31 Oktober 2018 | 118
Picture by Wisol
Picture by Wisol

DULU, saat keluargaku masih sempurna. Aku selalu dimanja dan merasakan kasih sayang penuh dari kedua orang tuaku. Semua itu berubah, disaat keluargaku tak sempurna seperti saat ini, semua kasih sayang dan kemanjaan itu pun pudar. Bahkan, aku sudah mulai merasakan perubahan dalam keluargaku yang tak sempurna ini. Meski, umurku yang masih genap dua belas tahun, aku sudah mulai meninggalkan aktivitas belajarku dirumah. Di sebabkan, kesibukanku dalam mengurus rumah tangga dari menanak nasi, cuci piring, baju, ngepel lantai dan mengurus adikku yang masih berumur empat tahun.

   Aku pun teringat akan kejadian beberapa bulan yang lalu, disaat aku dan adikku hidup dalam asuhan Tante Riska. Sebenarnya, dia masih termasuk family-ku. Ibu saja dengan tante Riska masih saudara sepupu. Sedangkan Ayah dengan Om Ruslan adalah saudara kandung.

   Bersama Tante Riska. Aku kembali merasakan ketentraman hidup. Namun, semua itu memudar tatkala bayangan ayah kembali, terbesit di benakku. Akan tetapi sampai saat ini, aku belum tahu keberadaannya. Air mataku sering kali tumpah ketika, bersama tante Riska. Aku selalu ingat pada ibu disaat, masih bersama yang selalu dihiasi oleh kebahagian dan sesungging senyum manis merekah diwajahnya. Setiap kali, aku bersama tante Riska. Aku selalu merasakan ibu telah kembali dan air mataku seakan-akan tidak mau berhenti dengan keterharuan.

   “Kamu kenapa nangis, nak?” tanya tante Riska sembari memegang bahuku. Sedari tadi, beliau berada disampingku sibuk melayani adikku dan Anis anaknya untuk memberi nasi.

   Aku pun mengangkat kepala, perlahan-lahan, dan spontan. Aku memeluknya dengan sangat erat, air mata dikedua pipiku mulai menganak sungai “Nak, sudah. Jangan nangis. Nanti, adikmu juga ikut nangis…” ucapnya seperti mengetahui apa yang ada dalam benakku, sembari mengelu-elus rambutku yang terurai rapi. “Apa kamu mau adikmu juga ikut nangis?” lanjutnya.

   Aku pun melepas pelukanku dengan penuh kehangatan dan tante Riska pun menghapus sisa-sisa air mata dikedua pipiku dengan ibu jarinya “Sudah, ya, nak? jangan nangis lagi kasihan adikmu” rayunya sembari menganggukan kepala pelan dan aku membalasnya pula. ”Jikalau kamu butuh apa-apa bilang sama tante, ya?”

   “I...iya, tante” ucapku gugup

     “Ya, sudah. Makan dulu, ya nasinya? kasihan perutnya. Dari tadi belum terisi makanan sama sekali” pintanya sembari melemparkan senyum kecil padaku.

    Aku pun membalas  senyum manisnya ragu-ragu. Tiada sepatah kata apa pun yang aku lontarkan lagi, aku langsung menyantap makanan yang ada di depanku sudah siap saji. Walau, rasanya sedikit berbeda dengan masakan ibu. Tapi itupun, sudah cukup sederhana sekali untukku.

***

   Siang sudah lama terkikis. Senja pun mulai dibungkus rapi oleh  jubah hitam di cakrawala sana, Adzan baru saja selesai dikumandangkan. Tiupan angin kecil menyusup lewat sela-sela jendela rumahku. Aku pun merasa kedinginan dengan hembusan angin kecil yang menerobos mukena dan kaos panjang aku pakai ini.

    “Indah...” seketika ada suara lirih yang memanggilku.

      “Shodaqo Allahul Adhim...” aku menghentikan bacaan Al-qur’an.

       Lalu, aku menoleh mengikuti datangnya suara itu. Ternyata, ayah yang tengah berdiri di belakangku sambil memandangiku “Ya, ada apa, yah?” aku mengubah posisiku menghadap ayah. Ayah pun mensejajarkan tubuhnya dengan duduk bersila.

      Ku lihat wajahnya tampak ceria. Sepertinya ada kabar gembira yang ingin beliau sampaikan padaku. Sehingga, kabar itu tampak tidak bisa ditunda waktu untuk berbicara  denganku. Ya, tidak seperti biasanya ayah menyampaikan sesuatu padaku. Disaat, aku sedang santai. Tapi, mungkin sekarang ini ada hal penting yang lebih penting dari pada kewjibanku, setiap selesai Maghrib. Mengaji.

      Sungguh, sekarang ini ada yang aneh dengan ayah tak seperti biasanya. Beliau selalu menampakkan senyumnya yang seperti saat ini. Ketika, ada yang ingin di bicarakan.

      “Indah... maafkan ayah telah menggang-gumu. Sehingga, kamu harus rela menyudahi kewajibanmu. karena, ada hal penting yang tak bisa ayah tunda lagi. Karena, kita sudah dikejar waktu, otomatis semakin sempit pula hari yang direncanakan ayah ”

       Aku mengernyitkan dahi, tak mengerti. Dibenakku seketika tumbuh beribu-ribu pertanyaan. Apa mungkin yang dimaksud ayah dengan kata ‘semakin sempit pula hari yang direncanakan’itu adalah hari perayaan ulang tahunku? Mungkinkah ayah akan membawaku berjalan-jalan keluar kota untuk membuat diriku terhibur? Ataukah yang di maksudnya itu adalah ke empat puluh harinya ibu? Ah, sepertinya tidak mungkin karena, ibu beberapa minggu ini meninggal dunia. 

   “Maksudnya dengan hari yang di rencanakan itu apa, yah?”

   “Ya, ayah ingin sekali kamu itu bahagia. Karena, sejak kepergian ibumu. Kamu sering melamun, sedih dan ayah sangat tidak ingin kamu harus rela aktivitas belajarmu dirumah yang seperti saat ini sudah mulai ditinggalkan. Tapi sepertinya bukan itu saja. Bahkan, kamu banting tulang mengurus rumah tangga ini, sendirian. Sedangkan kamu terlalu anak-anak tidak sepantasnya kamu melakukan pekerjaan berat seperti itu.” Ujarnya “Ayah berfikir supaya kamu tidak terlalu berat melakukan semua itu dan supaya kamu tidak kesepian lagi. Ayah ingin Mbak-mu menjadi pengganti  posisi ibumu. ”

   “Maksud ayah. Mbak Aini?!”

   “Iya…”

   “Kenapa sih, yah ?! kok Mbak Aini? Dia terlalu muda, yah. Dia tidak pantas menikah dengan orang yang sudah memiliki tiga anak. Mbak Aini itu masih kelas 2 SMA. Lagian, mengapa ayah terlalu buru-buru untuk menikah lagi? Apa ayah tidak kasihan pada Indah dan Citra. Kalau, suatu saat nanti, ayah lebih sayang pada istri ayah? ibu mininggal dunia masih berapa minggu ini. Pokoknya, Indah tidak setuju ayah menikah lagi! ” ucapku sedikit kasar pada ayah. Sembari di iringi linangan air mata.

   Aku pun berlari meninggalkan ayah sendirian yang masih duduk mematung di kamar ibu. Aku masuk kedalam kamarku dan menutup pintu rapat-rapat. Aku duduk bersandar di balik pintu sambil memeluk kedua kakiku dengan di iringi air mata mengalir deras di kedua pipiku. “Pokoknya aku tidak setuju kalau, ayah menikah lagi! Apa lagi wanita yang akan di jadikan istrinya sepupuku sendiri!” gumamku dalam hati.

   Ya, sekarang inilah. Aku baru menemukan jawabannya selama ini yang menjadi tanda tanya di benakku terhadap ayah pada Mbak Aini. Setiap kali, aku melihat ayah di saat Mbak Aini kesini, kelakuan ayah sangat berbeda sekali di bandingkan saat ibu masih hidup.

***

   Berapa hari kemudian, ayah menyuruhku untuk tidak lagi makan bersama Tante Riska dan bahkan, aku disuruh menjauhinya. Sungguh, waktu itu aku benar-benar tersentak mendengar perkataan itu. Entah, mengapa aku tidak ingin sekali jauh darinya. Ya, mungkin saja karena, aku sudah terlalu dekat dengan beliau dan setiap kali aku berada disisinya, aku selalu merasa getaran laksana berada di dekat  ibu. Bahkan, rasa rindu dan kasih sayang pada tante Riska itu selalu tumbuh ketika, Tante Riska tidak ada di sisiku. Mungkinkah itu semua gara-garaku? Karena, aku  tidak merestui ayah menikah lagi?

   “Memangnya kenapa, yah?”

suatu ketika, aku memberanikan diri bertanya pada ayah

   “Indah…ayah melarangmu untuk tidak lagi makan bersama tante Rika. Supaya, kamu tidak selalu bergantunga pada orang lain terus”

   Hanya Perkataan itu yang ayah jadikan sebagai alasan? Ya, apa yang di katakan ayah memang benar. Tapi, sebenarnya yang ayah maksud bukanlah seperti itu.Ya, Aku yakin itu. Namun, alasan seperti itu bukan sepantasnya untuk di jadikan alasan. Karena, Tante Riska bukanlah orang lain, dia masih termasuk keluarga kita. ucapku membatin.

   “Tapi, yah. Indah sudah menganggap beliau itu seperti, ibu. Setiap kali aku berada disisinya, aku merasa nyaman dan bahkan, aku merasa ibu telah kembali, dan lagin indah sudah terlanjur sanyang padanya, yah. Indah tidak mungkin menjauh darinya. Indah benar-benar tidak bisa, yah jikalau, ayah menyuruh indah untuk menjauhi Tante Riska.”  

   “Indah….tapi itukan...”

   “Tidak, yah! Indah tetap tidak mau menjahui Tante Riska!” aku memotong ucapan ayah. Agak kasar.

   “Oke! Kalau, kamu tidak mau menurut pada ayah lagi. Silahkan angkat kaki dari rumah ini, dan jangan pernah ke sini lagi.” Mata ayah terbelak menatapku, tajam.

   Deg! Jantungku berdetak kencang mendengar ayah berkata kasar yang menusuk kalbu. Sehingga, aku hanya bisa mematung dengan kepala menunduk dalam kebisuan. Bibirku kelu dan mataku menumpahkan air mata.

***

   Sudah satu bulan lebih, aku menjauh dari Tante Riska beserta keluarganya dan akhir-akhir ini. Aku tidak lagi mengetahui keadan mereka dan aku tidak tahu apa mereka masih mengingatku? Masihkah mengkhawatirkan keadaanku? Ataukah  mereka sudah melupakanku? Tapi, Itu tidak mungkin! Karena aku tahu betul siapa Tante Riska dan keluarganya. Mereka itu baik sekali pada diriku dan juga keluargaku. Aku yakin mereka selalu mengkhawatirkan keadaanku sekeluarga. Tapi, disaat aku ingat pada ayah. ingin sekali aku menutupi wajahku. Supaya, mereka tidak lagi melihatku. Itupun bukannya aku tidak lagi mau pada mereka. Tapi,  aku benar-benar malu pada mereka akan kelakuan ayah yang di perbuat padanya hanya bisa menyakiti hatinya. Tanpa, ada sedikit pun terimaksih pada mereka akan kebaikan yang mereka berikan pada kami selama kami bersamanya dan  aku benar-benar tidak betah lagi tinggal di rumah ini. Ya, aku ingin sekali pergi jauh sejauh mungkin. Supaya, aku bisa intropeksi diri dari celotehan para tetangga yang setiap hari memfitnah keluarga tante Riska. Itu semua  karena, ulah ayah.

   “Aku benar kecewa padamu, yah.” Gumamku dalam hati sembari menatap foto ayah yang terpampang di dinding kamarku yang tengah menebarkan senyum.

***

   Selesainya shalat dhuhur. aku mengurung-kan niat suciku untuk berdo’a. Disebabkan aku mendengar suara tangisan anak kecil yang sangat-ku hafal suaranya tidak lain lagi adalah Citra terdengar nyaring di telingaku. Semakin lama semakin nyaring. Aku pun cepat-cepat keluar, di iringi kegundahan dan tanda Tanya menyelimuti benakku.

   Batinku tersentak melihat ayah cara me-mandikan Citra tak berprikemanusiaan. Setelahku selidiki ayah sedang marah besar pada Citra. Entah, aku tidak tahu pasti. Aku melihat adikku itu semakin tidak tega, dia sepertinya tidak bisa ber-nafas, sesak dan tangisannya semakin membahana dengan nada serak. Aku pun cepat-cepat meng-hampiri dan meraih tangan ayah yang sudah siap menyiram Citra dengan sekian kalinya. “Sudah,yah. Cukup kasihan  Citra…” perkataanku tidak di hiraukan oleh ayah.

   “Aakh…!!!” teriakku histeris.

    Ayah mengibasku sehingga kepalaku membentur pilar dan tubuhku terdampar dikamar mandi itu. Aku tidak tahu lagi apa malaikat maut sudah menggambil nyawaku atau tidak? (*)

 

* Banyuanyar, 23 Maret 2015, 00:30 WIB

Chandra Mahesa