AIR MATA DIAN

By: Syaiful Hukama Ira | 27 Maret 2019 | 184
Cerpen oleh Aktifis AJM
Cerpen oleh Aktifis AJM

Dunia seolah miliknya, karena ia telah memiliki segalanya, apapun yang ia inginkan selalu terpenuhi. Namun, dian seorang gadis belia cantik yang awalnya baik telah memilih jalan yang salah. Ia telah menghancurkan kehidupannya sendiri, bahkan kehormatannya pun telah ia berikan kepada laki-laki yang ia pilih sebagai pelampiasan terhadap ketidak setujuannya pada perjodohan dengan laki-laki yang saat ini sedang menimba ilmu di luar kota. Ia benar-benar tidak bisa menerima keputusan dari keluarganya. Tapi, semua yang ia lakukan benar-benar menjadi sejarah pahit dalam hidupnya, ia menyesal karena telah kehilangan kehormatannya.

“Bagaimana dengan pertunanganku dengannya, apa yang harus aku katakan jika aku sudah menikah nanti.”  Tangisnya dengan penuh penyesalan. “aku gak sanggup zara. Aku gak sanggup” memeluk sahabat yang selalu ada disampingnya.

“Sudah, dian jangan menangis, aku ngerti apa yang kamu rasakan” dia mengelus rambut dian.

“Gak, nggak, zara. Aku gak sanggup menghadapi pernikahan ini, aku sudah tidak suci lagi!”

“Dian!, jangan bicara seperti itu dian” dian beranjak dari kasur empuknya berlari mencari sesuatu ditempat hiasnya. “apa yang akan kamu lakukan dian...?”Dengan begitu panik  melihat dian menggesekkan sebuah pisau. “lebih baik, aku mati saja, aku malu zara”  dengan begitu nekat.  Dian memenggal tanganya hingga berdarah. Zara hanya ternganga tak percaya apa yang dian lakukan. “dian....!” Teriak zara kencang hingga, bunda dan ayah dian mendengarnya. Melihat dian terlentang di lantai keduanya panik dan langsung membawanya ke rumah sakit.

***

Pagi setelah, fajar terbit dari ufuk timur, terik matahari meninggi mengharuskan orang-orang mengerjakan aktifitas masing-masing. Melihat tubuh yang berbaring diatas ranjang, zara juga kedua orang tua dian menangis, disertai dzikir yang tiada henti.

Selang beberapa menit. “om, tante lihat dian...” Pekik zara.

“ Dian kamu sudah sadar nak?” Bunda mencium dahi dian dengan penuh kasih sayang. “Kenapa aku masih hidup” dian memegang kepalanya. “iya, sayang, allah telah mengabulkan do’a ayah dan bunda.” Sesaat suasana hening tak ada sepatah katapun yang terdengar. Bunda dan ayah dian saling pandang dan menganggukkan kepalanya. “dian...” Panggil bunda lembut “ada yang ingin bunda katakan padamu” lanjutnya, dian hanya mengangkat alisnya menunggu bunda bicara selanjutnya. “dian, bunda dan ayah sudah...” Bunda belum melanjutkan kata-katanya, hati dian ketakutan ia berfikir kalau bunda sudah mengetahui semua yang dian rahasiakan, dian menyumbat telinganya dan menarik nafas dalam siap dengan semua yang akan terjadi. “iya, bunda maafkan aku, aku siap menerima semuanya” bunda tersenyum mendengar perkataan dian, “makasih sayang, kamu telah mengabulkan permintaan bunda” dian tak mengerti dengan apa yang bunda katakan. Dilihatnya, zara hanya tersenyum. Mengerti dengan maksud yang dibicarakan dian hanya bisa menunduk.

“Bunda akan secepatnya, urus pernikahanmu. Oh iya, ardi sudah i’lan al-qur’annya dua hari yang lalu” “allah betapa tak pantas hamba bersanding laki-laki se-sholeh ardi” batinnya, sampai terbesit menjadi seorang santri sebelum ijab qobul itu terlaksana. “bunda... Dian minta sebelum itu, terjadi izinkan dian masuk pesantren dulu” sesaat bunda hanya diam, namun kemudian menganggukkan kepalanya.

“Maafkan aku, maafkan aku, sebenarnya. Aku hanya ingin pernikahan ini tidak terjadi karena, aku takut bunda, aku takut akan terjadi perceraian suatu saat nanti, jika dia mengetahui sebenarnya.” Rintih dian dalam hati. Dian bertekad untuk menulis surat sebelum ardi menikahinya.

Assalamualaikum wr.wb.

Ahlan wasahlan wahai pemuda yang baik. Masih mengalir nikmat tuhan yang senantiasa memberi perlindungan terhadapku, insan do’if.

Semoga semua yang akan dan telah terjadi tidak akan pernah merusak ukhuwah sesama muslim.

Pemudaku....

Entah, aku harus memulai dari mana, aku bingung untuk menjabarkan kalimat yang sudah tertata rapi, namun itu semua adalah bukti. Walau bagaimanapun aku harus memberitahumu mengenai siapa aku yang sesungguhnya.

Ardi...

Aku minta maaf, karena aku tidak bisa menjaga diriku seutuhnya untukmu. Burung dara itu, kini telah menjadi burung hantu, dengan segala kekotorannya akibat perbuatan bejatku.

Maafkan, aku karena waktu itu, aku belum bisa menerima keputusan kedua orang tuaku tentang perjodohan ini. Sehingga aku nekat dengan segala ketidak setujuanku, aku memberikan kehormatanku kepada orang yang amat aku sayang, ketika itu.

Namun ahirnya aku sadar, apa yang kulakukan itu salah, aku menyesal, bukannya menyelesaikan masalah malah menambah yang lebih rumit. Dan asal kamu tahu sampai saat ini orang tuaku tidak pernah tahu akan kebejatanku.

Ardi...

Sekarang kamu sudah tahu siapa sebenarnya aku, dengan penuh kesadaran, aku sadar bahwa aku tidak pantas bersanding denganmu dengan segala kekotoranku. Aku pasrahkan semua keputusan kepadamu, masihkah kamu akan bertahan? Sementara aku sudah tidak layak menjadi bidadarimu.

Wassalamualakum Wr. Wb.

NB: aku tidak ingin kamu menyesal bersanding denganku. Jadi fikirkan, baik-baik sebelum melangkah di ranting pernikahan.

Fauziyah Dian Pertiwi

***

Sejauh mata memandang menerawang kelangit biru membuatnya merasa lega dan betah di pondok, Dian merasa menemukan kehidupan yang sempurna, menjadi seorang hafidzah. Meski, hanya setengah Al-Qur’an. Karena, merasa ketidak mampuan dirinya dalam menjaga hafalan, dari pada semua hanya menghasilkan dosa lebih baik menjaganya saja, apa yang telah di Dian hafalkan, itu keputusannya.

Saat ini, Dian duduk santai di depan kamarnya, tiba-tiba terlintas dalam fikirannya. Sebuah surat yang ia berikan pada Jakfar Dinata tunangannya yang biasa disebut Ardi.  Tentang pengakuannya, embun bening menetes dari mata indahnya.

“Eh, melamun aja kamu” sedikit kaget, Dian menghapus bekas di pipinya.

“Kamu bikin kaget aku” “Hemzz... dengar-dengar udah mau nikah nih... kok aku gak kebagian undangan ya...” hanya senyum yang mampu membalas perkataan itu. “Wah, bak Dian ini. beruntung banget ya mempunyai calon suami yang ganteng hafidz lagi” sambung Fida temannya yang baru saja datang. Hingga air mata menetes kembali, membasahi kelopak lentiknya “Loh, kenapa bak Dian menangis bukannya, mbak bahagia?” “Ya, aku bahagia sampai aku menangis.” Hati Dian menjerit ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya, tak kuasa dengan segala topeng yang harus Dian pasang menutupi wajah yang sebenarnya.

Bagaimanapun Dian harus menanggung perbuatannya. Lima hari lagi, pernikahan akan berlangsung, tapi Dian harus menunggu jawaban dari Ardi, apakah laki-laki itu masih ingin melanjutkan pernikahannya atau malah sebaliknya?. Dian pasrah dengan semua keputusan yang Ardi ambil, siap menerima cacian dan juga harus siap kehilangan apa yang Dian miliki.

***

Sore nan sejuk, selesai sholat berjamaah. Dian tidak langsung pergi ke kamar, Dian lebih memilih me-morojaah hafalannya, tidak berselang beberapa waktu. “Bak Dian ada manggil” Lisa, teman sekamar Dian memberitahukan. “Siapa, dek?” tanyanya penasaran “Gak tau, embak” jawabnya, singkat sambil berlalu.

Dian meletakkan mushaf di tangannya dan segera turun dari musholla, dari kejauhan terlihat seorang gadis berkerudung kuning dan wanita paruh baya di depan kamarnya, yang tak lain adek dan ibu Ardi. “Ada apa, ya?” fikiran Dian menerawang.

“Assalamualaikum…” ucap Dian setibanya dihadapan mereka.

“Waalaikum salam…”

“Sudah lama, bu?” Dian mengawali pembicaraan.

“Baru sampai. Iya, Dian. Gimana kabarnya, sehat?” tanya calon mertuanya “Alhamdulillah, sehat, bu” “Ini ada titipan  dari Ardi, tapi maaf loh Dian, ibu dan Rani buru-buru”

“ Terimakasih bu, Ran”

“Sama-sama kak” balas Rani dengan senyum manisnya, “Mari, mbak assalamualaikum”

“Waalaikum salam” jawab Dian setelah mencium tangan ibu Ardi.

Dian merobek amlpok putih ditangannya, membuka selembar kertas yang bertuliskan;

Assalamualaikum Wr.Wb.

Ahlan bik wahai bidadariku disana. Puji syukurku terhadap Allah Azza Wajalla yang selalu memberi rahmat kepada yang Ia kehendaki. Tak kan pernah ada yang terlepas apalagi terpisah selama Tuhan selalu membimbing makhlukNya di jalan yang lurus.

Bidadariku...

Tak ada manusia yang sempurna. Bahkan, Rosulullah-pun sebagai manusia yang sempurna pernah melakukan kekhilafan. Sehingga, Allah menegurnya dalam Al-Qur’an.

Badadariku...

Kekuranganmu tidak akan pernah menjadi penghalang bagiku untuk melaksanakan sunnah Rosul ini. Kekuranganmu akan menjadi bahan bagiku  untuk menyampaikan amanahku ketika aku menjadi Imammu, dan kekuranganmu akan menjadi ibroh untuk perjalanan hidupku namun bukan berarti aku harus melepasmu.

Karena kekuranganmulah, aku ingin menjadi pendampingmu, karena kekuranganmu juga, aku siap menjadi pembimbingmu, izinkan aku melengkapi kekuranganmu.

Kasih...

Kucapkan terima kasih, karena telah mau jujur, semua itu akan mengurangi bebanku untuk belajar mengerti perasaanmu, dan terimakasih pula karena, kau mau kembali pada jalan yang benar.

Terahir...

Tak ada alasan apapun untuk tidak melanjutkan melangkah di ranting-ranting itu. Aku ingin merubah burung Hantu itu, menjadi Merak yang selalu siap menghiburku dan menemani hari-hariku.

Wassalam

NB: akupun memiliki kekurangan. Jadi persiapkan sarangmu, aku akan terbang ke sana merajut mahkota dengan kain sutera.

Jakfar Dinata

U-J Zarasd

Pecinta pena

Aktifis Aliansi Jurnalis Muslimah (AJM)