Adakan Seminar Nasional, STIBA Datangkan KH. D. Zawawi Imron

By: Faisal Amir | 27 Maret 2019 | 133
KH. D. Zawawi Imron pada Seminar Nasional STIBA.
KH. D. Zawawi Imron pada Seminar Nasional STIBA.

BANYUANYAR. banyuanyar.net Sabtu 27/03/19. Sekolah tinggi ilmu bahasa arab (STIBA) selenggarakan Seminar Nasional dengan mengangkat tema “Sastra Islam indonesia dan Madura; Telaah History dan Eksistensi” dengan mendatangkan KH.D. Zawawi Imron, seorang Budayawan Nasional.

Acara yang digelar di aula musholla putri ini, selain melibatkan seluruh mahasiswa, civitas akademika dan beberapa pengelola kampus, juga mengundang onganisasi intra sekolah yang ada di lembaga sekolah.

Bapak Abdul muqit, S.Th.I, M.Pd,I selaku ketua I menyampaikan bahwa kegiatan kali ini sebagai ganti dari jadwal masuk perkuliahan serta bersifat wajib sebagaimana jadwal kuliah biasanya. Beliau menambahkan, “terkhusus mahasiswa semester VI ditugaskan membuat resume mengenai apa yang dipaparkan oleh Narasumber sebagaimana disepakati beberapa hari yang lalu.”

Hadir juga, Bapak Muhammad, M,Pd, salah satu dosen STIBA memberi sambutuan atas nama perwakilan dari ketua STIBA mengajak Mahasiswa guna mengikuti acara dengan baik sampai selesai serta dapat menangkat dari yang disampaikan, sebab penting juga memahami tujuan dan hakikat kehidupan; dimensi ruhiyyah dan ruhaniyyah, dengan kacamata sastra dan keindahan.

Acara seminar berjalan sukses dan meriah. Pak De, sapaan akrab beliau, di awal pembicaraan menyapa peserta dengan memberikan sebuah kalimat semangat, “tersenyumlah, sebab siapa yang mampu tersenyum hari ini, niscaya akan tersenyum sepanjang hari” diikuti tepuk tangan para peserta. Beliau menyampaikan banyak hal berkenaan tema kali ini, termasuk menyinggung keberadaan sastra madura yang beliau nilai sangatlah memperihatinkan, dan hal itu bisa dilihat dari generasi sekarang yang kurang minat dengan bahasa Madura. Di kesempatan lain beliau juga menyuguhkan beberapa syair madura, baik karangan beliau maupun karangan-karangan sastrawan lainya. Beliau menilai mayoritas subtansi dari puisi-puisi madura mengandung pesan moral, karenanya tolak ukur yang dijadikan sebuah dasar penilaian orang Madura adalah perilaku. Dan itulah khazanah dan cirikhas dari sastra pesantren, karena pesantren adalah tempat pengkajian al-quran, dan al-qur’an sendiri memuat bahasa yang paling santun sekalipun dengan nada tendensius. Itulah sebabnya, al-qur’an mengajak para da’i untuk menyampaikan dakwah dengan penuh hikmah, mau’idzah hasanah dan dengan sebaik-baik mujadalah. “Mimbar itu digunakan untuk menyamipaikan qoulul haq, namun sekarang banyak digunakan menyampaikan qoulul hoq (perkataan hoax)” Singgung sastrawan berkelahiran Sumenep Madura ini.

Pada sesi selanjutnya, beliau juga memberi kesempatan bertanya bagi para peserta, setelah kurang lebih satu jam menyampaikan materi. Dan acara pun ditutup dengan doa, yang sebelumnya ada pemberian kenang-kenangan dan cinderamata dari kampus STIBA kepada narasumber yang kini berusia 83 tahun. (TAMAMI)