Home / Artikel / Kita dan Islamophopia

Kita dan Islamophopia

Namanya Khan. Dia seorang muslim keturunan Pakistan. Keluarganya adalah penganut muslim taat. Dari itu keislaman Khan sangat teguh dan kokoh. Tapi meski demikian, Khan memiliki kekurangan. Dia sebenarnya cerdas, tapi menderita sebuah penyakit sindrom. Dia tidak bisa berkomunikasi layaknya orang normal. Satu kalimat bisa diulangnya beberapa kali. Sehingga dia lebih terlihat sebagai orang bodoh.

Karena berbagai alasan, dia kemudian pindah ke Amerika Serikat (AS). Dia kemudian hidup di sana, bersama dengan orang-orang yang berbeda dengannya.

Khan sebenarnya agak risih hidup di AS. Warga AS ternyata banyak membenci orang seperti Khan yang agamanya Islam. Bahkan tak jarang dia menyaksikan bahkan mengalami sendiri perlakukan tidak adil di sana. Tapi dia tetap teguh. Khan berkeyakinan bahwa agamanya tidak salah. Yang salah adalah kelakuan sebagian penganutnya yang tidak sepenuhnya memahami.

Sampai Khan bertemu dengan seorang perempuan asal India. Perempuan itu janda memiliki satu anak. Khan kemudian berkenalan dengan orang itu, sampai menikahinya.

Teman muslim Khan sebenarnya melarang pernikahan itu. Alasannya karena perempuan yang dipinangnya itu adalah seorang Hindu. Tapi Khan memaksa. Dia berperinsip bahwa tidak ada perbedaan. Katanya yang berbeda hanya orang baik dan orang jahat.
Khan menikah perempuan janda itu. Dengan itu, anaknya yang bernama Shamir otomatis menyandang namanya. Shamir Khan. Dan itulah yang kemudian menjadi pemicu timbulnya masalah besar.

Shamir mengalami intimidasi dari teman-teman sekolahnya. Shamir dianggap golongan yang serupa dengan mereka yang telah membuat teror dan kerusakan di mana-mana, membunuh yang tidak bersalah. Shamir dianggap teroris.

Dan suatu ketika, saat sedang bermain sepak bola, Shamir dikeroyok sampai mengalami luka cukup serius. Dan dia meninggal kerena itu.

Ibu Shamir, istri Khan, sangat bersedih. Dia tidak percaya dengan kejadian itu. Dia bahkan tidak bisa menerima. Dan yang paling disalahkannya adalah dirinya yang telah menikah dengan Khan. Karena menurutnya, andai dia tidak menikah dengan Khan, anaknya itu tidak akan diperlakukan demikian oleh teman-temannya.

Perempuan janda yang telah menjadi istri Khan itu kemudian mengusir suaminya. Karena menurutnya sumber masalah terbesarnya adalah pria muslim itu. Khan menurut, dia pergi. Tapi sebelum pergi Khan bertanya, kapan dirinya bisa kembali kepada istri yang sangat dicintainya itu. Istrinya menjawab, sampai Khan mengatakan kepada orang-orang bahwa dia dan golongannya bukan teroris. Bukan itu harus disampaikan kepada seluruh warga dan terutama presiden AS.
Khan mengangguk. Dia kemudian pergi dengan satu tujuan itu. Mengatakan kepada semua orang, dan kepada presiden bahwa dirinya bukan teroris.

O, ya, belum diceritakan sebelumnya bahwa Khan selalu membawa handycame. Dia merekam setiap apa yang dilewatinya.

Sampai dia bediam di satu tempat untuk shalat. Di tempat itu banyak orang berkopyah. Muslim juga. Tapi Khan merasa risih dengan orang-oran itu. Mereka ternyata merencakan sesuatu yang tidak baik. Melakuakn pengeboman di suatu tempat. Khan kemudian berteriat. “Nama saya Khan, saya bukan teroris!” berulang-ulang. Lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Di suatu pertemuan, saat Presiden AS berdiri di depan Gedung Putih untuk berpidato di depan warganya, Khan datang. Dia ingin menemuinya. Dia mengulang-ulang kalimat yang pernah dipesankan istrinya.

“Nama saya Khan, saya bukan teroris,” terus diulang di tengah kerumunan orang. Sampai ada yang mendengar kalimat itu dan berteriak. Suasana kacau. Orang-orang menyangka ada teroris. Presiden diamankan. Khan tetap berdiri di tempanya dengan tetap berkomat kamet dengan kalimat itu. Menyadari itu, polisi kemudian mengarahkan pistolnya ke arahnya. Khan tertembak. Handycame yang dipegangnya jatuh.

Handycame itu disita polisi dan Khan segera dibawa ke rumah sakit. Polisi kemudian memeriksa isi handycame Khan. Dan betapa terkejut, ternyata di sana ada satu cuplikan video yang menayangkan rencana pengemboman itu. Polisi melakukan penyelidikan, dan akhirnya berhasil menangkap mereka.
Polisi merasa bersalah pada Khan. Mereka justru merasa berterima kasih, karena berkat rekaman Khan, nyawa banyak orang terselamatkan.

Khan tersadar dirinya berada di rumah sakit. Di dekatnya ada seorang perempuan istrinya. Khan tersenyum. Dia kemudian meminta agar dirinya dipeluk.

Kisah itu berkhir ketika Khan betemu dengan Presiden AS di sebuah konfrensi dunia. Presiden berterima kasih kepada Khan. Dan di atas panggung, saat semua mata tertuju kepadanya, saat semua kamera tv dari seluruh dunia tertuju padanya, Khan mengutarakan kalimat itu lagi, “Nama saya Khan, dan saya bukan teroris.”

Untuk sebagian orang, kisah di atas mungkin tidak asing. Kisah itu adalah sarian dari sebuah film Bolywood yang diproduksi sekitar tahun 2008 lalu. Judulnya “My Name is Khan”.

Bagi saya sendiri, awal menyaksikannya saya sedikit tidak suka. Karena di film itu banyak ditampilkan adegan tidak adil kepada orang-orang Islam. Tapi ternyata endingnya luar biasa. Film itu menurut saya menyampaikan pesan sangat penting, yaitu umat Islam bukan teroris.
Karena memang demikian. Di Barat, Islam dilihat sebagai agama yang jahat, agama yang mengajarkan membunuh. Dari itu, orang-orang Islam didiskriminasi. Diperlakukan tidak adil dan ditindas. Islamophobia. Tindakan itu mungkin beralasan karena banyak tidak kejahatan sejenis pengeboman dilakukan oleh orang-orang yang mengatakan dirinya Islam. Seperti yang terparah kejadiian tanggal 11 September 2001, gedung pencakar langit AS WTC rata dengan tanah karena dihantam oleh pesawat yang konon telah dibajak teroris jaringan Al-Qaeda. Ribuan nyawa tak berdosa melayang karenanya. Walaupun sebenarnya banyak kontroversi tentangnya. Karena ada spekulasi bahwa yang melakukan itu bukan Al-Qaeda, tapi rencana busuk rezim Bush dan antek-anteknya.

Terlepas dari itu semua, memang benar adanya. Sebagian muslim, terutama yang ada di negara Indonesia, kadang ada yang suka bertindak demikian. Akhir-akhir ini ISIS yang menjadi tranding. Lainnya, pencurian, perampokan, dan korupsi banyak dilakukan mereka yang tercatat sebagai muslim.

Benar yang dikatakan tokoh mujaddid Islam, Muhammad Abduh, “al-Islamu mahjubun bil muslimin,” Islam terhalang dengan orang-orang Islam. Mereka banyak yang hanya beragama Islam di tanda pengnalnya, tapi amaliyahnya tidak.Penulis pun mungkin demikian.

Semoga Allah senantiasa menunjukkan jalanNya yang lurus, kepada penulis dan orang-orang yang menyayangi dan mencintainya, keluarga, guru, tetangga, sahabat, dan semua umat Islam.
Wallahul musta’an.

Abdullah Saiful Mujahidin

 

Tinggalkan komentar...

About Banyuanyar Media Team

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tada’ kaboenga’an angĕng ĕlmo sĕ mampaat sareng tako’ da’ Allataala karana gapanĕka sĕ daddi kaontongan ban kamoldja’an doennja aherat.