Home / Artikel / Hijrahku dari Ibu

Hijrahku dari Ibu

NAMAKU FERI. Feri Candra Widjayanto. Aku seorang santri di Pondok Pesantren Banyuanyar. Aku akan bercerita sebagian tentang cerita hidupku bersama pahlawan masa depanku yaitu Ibu.

Kali pertama merasakan cinta, ada perasaan yang sedikit berbeda dengan rasa cokelat yang lezat. Seakan-akan aku merasakan terbang ke awan ketika orang yang mencintaiku benar-benar mengungkapkan perasaan cintanya dengan teramat dalam padaku. Namun, sejatinya cinta pertamaku itu bukanlah dari seorang kekasih, melainkan tumbuh dari seorang perempuan yang telah ikhlas merawatku sedari kecil, dialah ibu. Walaupun tidak diungkapkan secara lisan, aku wajib mencintai insan yang memperjuangkanku untuk dapat hadir di dunia yang fana ini.

Genap sudah satu tahun aku berada di pesantren ini. Segala yang membuatku hidup mandiri, aku jalani dengan penuh kesabaran. Karena aku yakin, bahwa hal itu akan membuatku menjadi orang yang sukses. Tapi dibalik itu, ada orang yang selalu mendoakan aku agar menjadi orang sukses, dialah seorang ibu.

Alhamdulillah semua yang ibu impikan telah aku laksanakan, walaupun masih belum sempurna. Mulai dari ingin membuatku menjadi anak yang lebih baik, ingin aku menjadi orang yang sukses dan ingin melihatku menjadi seorang santri yang berakhlak Nabi. Aku sering menangis ketika aku mengingat betapa durhakanya dulu pada ibu. Aku sering memarahinya ketika aku merasa uang yang diberikan kurang dan bahkan sampai memukulnya jika ada kesalahan sedikit saja.

Namun sekarang aku telah berubah seperti apa yang didambakan ibu padaku. Banyuanyar nama yang selalu menemani dalam keseharian, tempat yang selalu mengajarkanku sebuah jati diri untuk menjadi insan yang berakhlak ala nabi dan merupakan pesantren yang mempertemukanku dengan sahabat yang alamatnya tak dekat. Perantara Bayuanyar pula aku dapat merubah hidupku penuh dengan cahaya ilmu dalam gelapnya kebodohanku. Walaupun masih jauh dari kesempurnaan dan dari Banyuanyar pula aku bisa merubah sifat burukku.

***

Pagi ini seperti biasa suasana di asrama pondokku sangat tenang, terasa sangat dingin menggigit. Matahari pun nampaknya masih malu untuk keluar dari peraduannya. Jarum jam masih menunjukkan pukul 05:30 pagi, itu berarti dua jam lagi aku berangkat sekolah. Tapi sebelum itu aku sempat menerawang ke angan-angan masa kelamku di rumah.

Setahun lalu, saat dimana pagi menyapa, tepat pada hari minggu aku berniat untuk pergi jalan-jalan bersama teman-teman. Namun aku tidak memiliki uang untuk bisa digunakan sebagai perbekalan perjalananku, aku pun meminta uang pada ibu.

“Bu, Feri mau minta uang, Feri mau jalan-jalan sama teman-teman Feri” ucapku pada ibu.

“Nak, ibu masih belum punya uang, tadi saja ibu masih cari pinjaman buat makan kita hari ini” jawab ibu.

Setelah mendengan jawaban itu emosiku tak tertahan. Cettaarrr…! Semua gelas kaca hancur berkeping-keping dan itu semua karena ulahku. Itu semua karena emosiku yang lebih, begitulah aku. Mungkin karena aku takut akan berbuat yang lebih parah, ibu pun langsung pergi mencari pinjaman dan tanpa aku ketahui ibu meneteskan air mata.

Namun, lamunan itu langsung hilang ketika teman sekamarku mengagetkanku dan mengajakku untuk pergi mandi dan berangkat ke sekolah. Di tengah perjalanan menuju sekolah aku masih mengingat dan membayangkan apa yang dulu pernah aku lakukan pada ibu itu dan apa yang akan aku terima atas perbuatanku.

Guruku pernah menagatakan padaku “Satu tetes air mata ibu sama dengan seribu penderitaan bagi orang yang menyakitinya”, begitu nasehat guruku dan saat itu pula aku merasa menyesal telah melakukan dosa besar yaitu membuat ibuku menangis.

***

Di sekolah, aku belajar kitab Ta’limul Muta’alim yaitu kitab yang menerangkan adab seorang anak kepada orang tuanya. Di dalamnya, ustadz menjelaskan tentang kewajiban seorang anak kepada orang tuanya. Disinilah hal yang membuat batin rohaniku serasa teriris ketika mendengar penjelasan seorang ustadz.

”Seorang anak yang berbakti pada orang tuanya, pasti tidak akan pernah menyakiti orang tuanya dan pasti senantiasa memuliakan dan membahagiakan orang tuanya. Karena dia tahu bahwa surga ada di telapak kaki ibunya” begitulah yang ustadz sampaikan.

Mendengar nasehat itu, aku langsung teringat suatu kejadian yang tak pernah bisa aku lupakan dan mungkin ibu tak akan pernah melupakannya.
Pikiranku kembali bernostalgia ke dalam masa kelamku bersama ibu.

Malam itu udara terasa sangat dingin serasa menembus tulang-belulang. Malam itu ibu sangat khawatir padaku karena aku tak kunjung pulang. Jam menunjukkan pukul 00:30, namun ibu masih saja menungguku di depan pintu rumah.

Ibu tak kuat menahan rasa khawatir. Ibu pun mencariku ke rumah teman-temanku, setelah tak ada jawaban ibu terus mencariku hingga ke tempat biasa aku nongkrong bersama teman-teman yaitu di warung Bu Alima. Tapi semuanya sia-sia, ibu tak menemukanku dimanapun. Akhirnya ibu memutuskan untuk pulang karena kelelahan.
Di tengah perjalanan ibu memutuskan beristirahat di sebuah halte bus dan dengan terperangah dan setengah tak percaya ibu melihat segerombolan anak muda yang sedang mabok. Setelah sempurna mengetahui aku berada di segerombolan itu, ibu pun berlari ke arahku dan segera mengambil botol minuman keras yang aku pegang dengan sigap ibu pun membuangnya. Aku pun marah kepada ibu. Emosiku melonjak tinggi tak bisa ditahan.

“Bu…! Apa yang ibu lakukan, itu minuman terakhir Feri” ucapku marah.

“Feri, Kamu itu memang keterlaluan, malam-malam keluar tanpa idzin, ibu khawatir nyariin kamu, tapi rupanya kamu malah mabuk dengan teman-tamanmu yang gak benar ini” ucap ibu dengan nada tinggi.

Dengan mata melotot nada suara yang tak lagi pelan, Feri pun berkata “Terus ibu mau apa?” meremehkan ibu.
“PLAAK…!”

Sebuah tamparan telak bersarang di pipiku, itulah tamparan pertama dari seorang ibu yang sangat sakit.

“Dasar anak durhaka…!!!” ucap ibu menangis.

“Terus aja pukul, Feri gak takut bu” Jawabku menantang.

Ibu diam dengan tatapan tajam padaku, air mata bening terjatuh pelan dari kelopak matanya yang sontak membuatku muak dan memilih pergi meninggalkannya sendirian.
Namun ketika aku hendak membawa motor, tiba-tiba dari arah belakangku terdengar bunyi mobil dengan kecepatan tinggi. Aku pun kaget dan segera memejamkan mata. Saat itu aku sudah pasrah pada keadaan, aku sudah merasa kalau akan mati dan aku tak sadarkan diri setelahnya. Namun sebelum itu, aku sempat mendengar teriakan suara seorang perempuan memanggil namaku.

***

“Aku ada dimana? Apa yang terjadi padaku” tanyaku setengah tak sadar.

“Kau ada di rumah sakit nak, kau tak sadarkan diri” ucap seorang dokter.

Entah dari mana aku langsung teringat ibu, aku merasa tidak tenang “Ibu, mana ibuku?”

“Nak, tenang kondisimu masih kurang stabil” ucap dokter itu.

“Mana ibuku?” bentakku pada dokter itu.

Dengan menahan nafas panjang dokter pun berkata “Baiklah, Ibumu sedang di ruang ICU, dia tak sadarkan diri” jelas dokter tersebut.
“Sekarang antarkan aku pada ibumu” pintaku
“Baiklah, akan aya antarkan kamu ke ibumu, tapi kamu harus tenang” ucap dokter itu menenangkanku.

Akhirnya dokter itu pun membawaku kepada ibuku, sambil menggunakan kursi roda. Sesampainya di depan ruang ICU. Perasaanku terasa sangat tidak seimbang antara takut dan khawatir akan terjadi sesuatu pada ibu. Di dalam hatiku yang terdalam aku sangat merasa sangat menyesal telah membuat ibu menderita.

Setelah tepat berada di ruang ICU aku melihat seorang wanita yang sedang terbaring lemah dengan selang infus di tangan kanannya dan selang oksigen di hidungnya.

“Ibu…!!” ucapku pelan. Ya, kondisinya sangat lemah, ibu belum juga membuka mata. Namun berselang beberapa menit jemari ibu yang aku cium dengan penuh kasih saying bergerak pelan, kemudian ibu perlahan membuka mata dan melirikku yang berada tepat di sebelah kanannya.

Namun ada satu hal yang menjanggal dalam salah satu organ tubuh ibu yaitu kakinya yang diperban sangat tebal. Aku pun menanyakan pada dokter atas apa yang telah terjadi terhadap ibuku.

“Dok, kenapa kaki ibuku seperti itu, apa yang terjadi pada ibuku?” tanyaku penuh keheranan.

“Nak…! Menurut kesaksian teman-temanmu saat itu kamu hampir tertabrak mobil, tapi beruntung ibumu sempat menyelamatkanmu. Seandainya ketika kejadian itu tidak ada ibumu di belakangmu, pasti sekarang kamu yang menggantikan posisi ibumu” dengan menghela nafas panjang, dokter pun melanjutkan penjelasan.

“Dan sebelumnya maaf kami harus mengamputasi kaki ibumu, karena ketika menyelamatkanmu dia yang tertabrak mobil, kemudian mobil itu melindas kaki ibumu dan hasilnya seperti apa yang kamu lihat sekarang” jelas dokter tersebut.

Mendengar kata-kata dokter itu aku pun menangis tersedu dengan tangisan yang tak bisa aku bendung dan bertanya pada diriku sendiri ‘apa yang telah aku lakukan, sekarang aku tidak punya jalan menuju surga lagi’.

“Dok, bisa tinggalkan saya dengan ibu sebentar” pintaku pada dokter

“Ya bisa, tapi jangan lama-lama, karena ibumu masih dalam keadaan pemulihan” jelas dokter tersebut sambil mengingatkanku, kemudian keluar meninggalkan kami berdua.
Dalam kesunyian, tinggalah aku dan ibu di dalam ruangan ICU itu, dengan tatapan tajam, ucapan pelan, air mata yang tak bisa aku tahan, aku pun berkata “Maafkan Feri bu! Feri sudah keterlaluan pada ibu, Feri memang tak berguna, seharusnya Ferilah yang berada di tempat ibu sekarang ini. Feri yang sudah membuat ibu sepeti sekarang ini” ucapku sambil tersedu-sedu menahan air mata yang tak bisa aku bendung.

Beberapa detik kemudian terdengar suara yang sangat lemah dan terucap dari lisan ibu dengan kesulitan untuk berkata.

“Kamu tidak salah nak, yang salah itu ibu. Ibu kurang memperhatikanmu, sehingga kamu terjerat ke dalam tipu nafsu duniawi” ucap ibu penuh haru. “Ibu sudah memaafkanmu, sekarang yang ibu inginkan adalah ingin melihat kamu menjadi orang baik, orang sukses dan ingin melihatmu menjadi santri. Apa kau bisa memenuhi itu semua nak?” pinta ibu penuh harap.

Aku diam sejenak dan menjawab permintaan ibu “Feri akan melakukan itu semua bu, jika itu bisa membuat ibu bahagia” ucapku sambil menangis penuh sesal.

“Terimakasih ya nak..!” ucap ibu sambil berusaha memelukku.

Aku hanya bisa meneteskan air mata, menganggukkan kepala dan berusaha untuk menerima kenyataan ini.
Waktu itu ruangan ICU dipenuhi dengan air mataku dan sang pahlawan hidupku.

Itu juga mengisyaratkan kasih sayang ibu pada anaknya. Aku merasakan kasih sayang itu termaktub dalam kalbu manakala sang ibu terlalarut dalam doa, seakan mengubah dunia yang fana menjadi lentera dalam kegelapan. Insan yang mengajarkan arti dari sebuah kehidupan yang benar dan membenarkan untuk kita aplikasikan dalam perjalanan kehidupan yang dipenuhi batu kerikil permasalahan.

Begitulah sepenggal ceritaku dan sang pahlawan hidupku. Sekarang aku di pondok memenuhi perintah ibu untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam menuntut ilmu agama agar bisa menolong ibu kelak di akhir kiamat.

Terkakhir aku ucapkan untuk ibu sedunia :

“Thanks you for your blessing, you are my hero. I love you forever.”

SEKIAN

MOHAMMAD ZULFAN FAHROSI / Markaz I’dad Darul Ulum Banyuanyar

Tinggalkan komentar...

About Banyuanyar Media Team

Check Also

Antara Etika dan Gaya

oleh : Syaiful Bahri ALANGKAH indahnya hidup dalam taat terhadap setiap titah Tuhan. Melangkah pasti dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tada’ kaboenga’an angĕng ĕlmo sĕ mampaat sareng tako’ da’ Allataala karana gapanĕka sĕ daddi kaontongan ban kamoldja’an doennja aherat.